BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Unsur-unsur Paragraf Jurnalistik
3.1.1 Transisi
Transisi berarti peralihan dari paragraf yang satu ke paragraf berikutnya. Transisi menghubungkan dua paragraf yang berdekatan. Transisi bisa berupa kata, bisa juga berupa kalimat. Dalam bagasa jurnalistik, tidak ada ketentuan apakah setiap paragraf harus memakai transisi. Setiap penulis atau jurnalis diberi kebebasan untuk menggunakan atau tidak menggunakan kata-kata transisi.
Transisi ditandai dengan kata hubungan kelanjutan seperti kata lalu, dan, serta; kata hubungan antar waktu seperti sekarang, sebelum, kemudian; kata penanda kalimat seperti misalnya; kata penanda kontras seperti tetapi, sebaliknya, walaupun; kata penanda urutan jarak seperti di sini, di sana; kata penanda ilustrasi seperti contoh; kata penanda sebab-akibat seperti sebab, oleh karena itu; kata penanda hubungan kondisi (pengandaian) seperti jika, andaikata, kalau; dan kata penanda kesimpulan seperti secara garis besar, dapat disimpulkan, ringkasnya.
3.1.2 Kalimat Topik
Kalimat topik dalam bahasa jurnalistik disebut kalimat utama. Menurut kaidah bahasa jurnalistik, kata topik dan utama berbeda sekali konotasi serta maknanya. Kalimat utama ialah sebuah kalimat dalam paragraf yang menunjukkan gagasan pokok, gagasan induk, atau ide sentral yang mendominasi seluruh uraian dalam paragraf tersebut. Kalimat utama bisa ditempatkan pada awal paragraf, bisa juga diletakkan pada akhir paragraf. Jika pada awal paragraf, maka paragraf itu disebut paragraf deduktif. Artinya pesan disusun dari umum ke khusus. Tetapi jika pada akhir paragaraf, maka paragraf itu dinamakan paragraf induktif. Artinya pesan jurnalistik disusun dari husus ke umum.
3.1.3 Kalimat pengembang
Kalimat utama yang diberi penjelasan dan uraian penekanan serta contoh-contoh pada kalimat-kalimat berikutnya dalam satu paragraf yang sama, itulah yang disebut dengan kalimat pengembang. Kalimat pengembang merupakan penjabaran atau perluasan dari gagasan pokok yang terdapat dalam kalimat utama. Kalimat pengembang berusaha menjabarkan sesuatu yang abstrak menjadi sesuatu yang konkret. Dalam bahasa jurnalistik, kalimat pengembang disebut pula kalimat penjelas.
3.1.4 Kalimat Penegas
Sesuai dengan namanya, kalimat penegas dimaksudkan untuk memberi penegasan atau penekanan terhadap apa yang telah dinyatakan dalam kalimat utama. Menurut seorang pakar bahasa, fungsi kalimat penegas ada dua. Pertama, sebagai pengulang atau penegas kembali kalimat topik atau kalimat utama. Kedua, sebagai daya penarik bagi para pembaca atau sebagai selingan untuk menghilankan kejenuhan (Tarigan,1981: 20) dalam (As Haris Sumadiria 2006:89)
Untuk itulah, dalam bahasa jurnalistik sangat ditekankan betapa pentingnya pilihan kata atau diksi dan variasi kalimat, antara lain sebagai salah satu cara untuk memikat-mengikat minat dan khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa agar tetap mengikuti jalan cerita yang disajikan penulis atau jurnalis.
3.2 Jenis-jenis Paragraf Jurnalistik
3.2.1 Paragraf Deduktif
Paragraf yang dimulai dengan kalimat utama disusul dengan penjelasan atau uraian secara lebih perinci dengan mengikuti pola urutan pesan dari umum ke husus, disebut paragraf deduktif. Fungsi paragraf deduktif terutama menegaskan seuatu pokok pikiran, pernyataan atau kesimpulan untuk segra diketahui dan dicacat oleh khalayak pembaca, mendengar, atau pemirsa. Untuk lebih meyakinkan betapa pentingnya kesimpulan itu, penulis atau jurnalis kemudian memerincinya dalam kalimat-kalimat pengembang dan kalimat penjelas.
3.2.2 Paragraf Induktif
Paragraf yang dimulai dengan kalaimat penjelas yang menekankan bagian-bagian atau unsusr-unsur terkecil disusul dengan pejelasan bagian-bagian yang lebih besar sebelum kemudian diakhiri dengan kesimpulan atau kalimat penegas disebut paragraf induktif. Dalam paragraf induktif, urutan pesan dimulai dari khusus ke umum.
Fungsi paragraf induktif terutama untuk menekankan bagian-bagian atau satuan-satiuan terkecil dari ide pokok yang ingin disampaikan penulis atau jurnalis kepada khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa. Fungsi paragraf induktif, lebih banyak bersifat visual atau penggambaran suatu hal dari pada paragaraf deduktif yang lebih menekankan dimensi konseptual atau penekanan suatu gagasan tertentu.
3.2.3 Paragraf Campuran
Paragraf campuran sesunguhnya merupakan gabungan beberapa unsur paragraf deduktif dan paragraf induktif. Sebagian unsur paragraf deduktif, misalnya kalimat pengembang pada bagian awal paragraf, dipadukan dengan sebagian unsur paragraf induktif, misalnya kalimat penegas pada bagian ahir paragraf. Dengan demikian penempatan kalimat utama seola-olah tersembunyi pada bagian tengah paragraf. Bahasa jurnalistik, kurang menyukai paragraf campuran karena cenderung menyulitkan pembaca, pendengar, atau pemirsa untuk cepat mengambil kesimpulan mengenai pokok pikiran yang terdapat dalam suatu paragraf.
3.2.4 Paragraf Perbandingan
Paragraf perbandingan tidak membicarakan urutan pesan sebagaimana tampak pada paragraf deduktif dan paragaraf induktif. Paragraf perbandingan lebih tertarik pada materi isi pesan yang ingin disampaikan seorang penulis atau jurnalis kepada khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa. Seatu paragaraf disebut paragaraf penbandingan apabila kalimat utama yang biasanya ditempatkan pada awal paragaraf, membandingkan dua hal mengenai unsur-unsur sifat atau keadaan yang terdapat di dalamnya. Dalam perbandingan, lazim digunakan analogi.
3.2.5 Paragraf Pertanyaan
Paragraf yang bertujuan untuk mempertanyakan atau menggugat sesuatu dengan mengajukan kalimat tanya pada kalimat pertama atau kalimat kedua di awal paragaraf jurnalistik, disebut paragraf pertanyaan. Karena bahasa jurnalistik bersifat lentur, tidak kaku, dan dinamis, maka boleh saja sewaktu-waktu seorang penulis atau jurnalis mengajukan pertanyaan kunci pada kalimat di akhir paragraf. Bahkan pada dua kalimat terakhir paragraf, dua pertanyaan dapat dilontarkan sekaligus. Efeknya, pembaca, pendengar atau pemirsa, akan mengingat dan terdorong untuk membawa pertanyaan itu ke paragraf-paragraf berikutnya.
3.2.6 Paragraf Sebab-akibat
Paragraf yang dapat disusun berdasarkan urutan logis disebut paragraf sebab-akibat. Artinya, kalimat utama dalam paragraf dikembangkan kedalam urutan sebab dan akibat. Suatu peristiwa tidak mungkin ada tanpa sebab atau latar belakang yang mendasarinya. Bahasa jurnalistik sangat menyukai paragraf jenis demikian.
3.2.7 Paragraf Contoh
Paragraf yang disusun dengan menunjukan banyak contoh pada kalimat utama, kalimat pengembang, dan kalimat penjelas, disebut paragraf contoh. Fungsi utama paragraf contoh tidak dimaksudkan untuk menekankan suatu gagasan atau konsep, tetapi justru untuk memberikan gambaran sesuatu hal secara konkret pada khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa.
Bahasa jurnalistik sangat akrab dengan paragraf contoh, mengingat bahasa jurnalistik disaratkan untuk lebih mengutamakan kata-kata dan kalimat konkret daripada kata-kata dan kalimat abstrak. Alasanya sangat jelas, khalayak pembaca, pandengar, atau pemirsa tidak menyukai sesuatu yang abstrak. Sesuatu yang abstrak sulit dicerna dan dipahami maksudnya.
3.2.8 Paragraf perulangan
Paragraf yang melakukan pengulangan kata, istilah, frasa, atau klausa, dalam susunan kalimat yang berbeda tetapi masih dalam satu paragraf jurnalistik yang sama, disebut paragraf perulangan. Fungsi paragraf perulangan terutama dimaksudkan untuk lebih menekankan efek psikologis yang ingin dicapai dari khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa, tetap terjaga, tetap tertarik, dan tetap mengikuti keseluruhan uraian dari sang penulis atau jurnalis.
3.2.9 Paragraf Defenisi
Paragraf yang menunjukkan suatu istilah atau konsep pada kalimat utama dan istilah atau konsep itu masih memerlukan uraian serta penjelasan perinci dari kalimat-kalimat berikutnya, disebut paragraf defenisi. Fungsi paragraf defenisi dimaksudkan untuk memperjelas suatu istilah, konsep, atau defenisi, sehingga khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa diharapkan dapat mengikuti jalan pikiran sang penulis atau jurnalis dengan baik. Ini sejalan dengan salah satu fungsi pers yaitu fungsi edukasi .
Bahasa jurnalistik, senantiasa berusaha untuk membumikan berbagai hal yang semula dianggap mengawang-ngawang menjadi sesuatu yang tampak kasat mata, bisa dilihat, dirasakan, atau dibuktikan secara empiris. Lewat fungsi edukasi, bahasa jurnalistik bertanggung jawab untuk mencerahkan khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsanya setiap hari tanpa henti.
3.3 Kualitas Paragraf Jurnalistik
Menurut seorang pakar bahasa, kriteria kualitas paragraf menunjuk kepada enam hal, yaitu:
3.3.1 Satu Hal Saja
Paragraf jurnalistik yang baik hanya memusatkan balasan pada satu hal atau satu ide saja. Seorang penulis atau jurnalis hanya fokus dalam satu ide pokok saja dalam penulisan sebuah paragraf.
3.3.2 Relevan
Relevan artinya berkaitan atau sesuai dengan pokok bahasan. Tidak menyimpang dari topik. Paragraf yang baik harus mencerminkan isi keseluruhan paparan karya jurnalistik (Sumadiria, 2004:31). Paragraf yang tidak relevan, artinya yang tidak menyimpang dari pokok bahasan serta tidak mencerminkan judul yang telah ditetapkan, hanya akan menyesatkan perhatian khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa. Ia merasa dibawa ke dalam lorong gelap, dan bukan diajak ke ruangan terbuka yang terang-benderang.
3.3.3 Menyatu dan Padu
Paragraf jurnalistik harus memenuhi prinsip kesatuan (unity) dan prinsip ketautan (coherence). Prinsip kesatuan mencakup tiga unsur: sifat, isi, tujuan. Artinya, masalah apapun yang kita kupas dalam karya jurnalistik tidak boleh keluar dari koridor ini. Kesatuan menekakan seluruh uraian berada dalam suatu kesatuan dilihat dari sifatnya, isinya, dan tujuannya. Sedangkan prisip pertautan menunjukan tetang keharusan pesan yang kita uraikan mengalir lancar dari kalimat yang satu ke kalimat yang lain, atau dari paragraf yang satu ke paragraf yang lain.
3.3.4 Jelas dan Sempurna
kaliamat utama yang terdapat dalam paragraf jurnalistik harus dikembangkan dan di perinci dengan jelas dan sempurna. Tidak boleh terjadi, kalimat-kalimat yang ada dalam suatu paragraf menunjukkan adanya pertentangsn dengan kalimat utama atau bahkan menegasikannya. Menegasikannya berarti menghilangkan eksistensi sekaligus melenyapkan makna kalimat utama. Bila ini terjadi, maka paragraf demikian disebut paragraf kacau.
3.3.5 Harus Bervariasi
Paragraf jurnalistik harus variatif. Ini syarat mutlak. Tak bisa ditawar-tawar lagi. Variasi pada paragraf jurnalistik terletak pada pilihan kata atau diksi, penempatan frasa atau klausa, penempatan panjang pendeknya kalimat atau paragaraf, penentuan kalimat efektif, dan tentu saja pemelihan gaya bahasa. Dengan sentuhan variasi bahasa di sana sini secara terukur, maka setiap karya jurnalistik akan tampil memikat khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa. Jadi jauh sekali dari kesan monoton serta menjemukan.
3.3.6 Benar dan Baik
Bahasa jurnalistik merujuk sekaligus tunduk kepada kaidah bahasa baku. Pertama, bahasa jurnalistik harus benar menurut kaidah tata bahasa. Kedua, bahasa jurnalistik juga harus baik menurut pertimbangan situasi dan kondisi sosiologis, psikologis, dan etis. Jadi, mohon tidak terbalik dengan mengatakan bahasa yang baik dan benar. Ini pandangan keliru yang sudah saatnya diluruskan. Pemakaian bahasa, petama-tama harus benar dulu menurut kaidah atau hukum bahasa. Setelah benar, barulah bahasa itu harus baik menurut pertimbangan-pertimbangan tertentu. Bahasa yang benar, sifatnya objektif. Sedangkan bahasa yang baik sifatnya subyektif.
3.3.7 Singkat padat
Kecuali diisyaratkan bervariasi dan tunduk kepada kaidah tata bahasa baku, paragraf jurnalistik juga wajib disajikan secara singkat dan padat. Singkat, berarti hanya mengunakan kata-kata yang penting, terukur, fungsional. Singkat dengan demikian bisa diartikan tidak boros kata-kata. Seperlunya saja. Mengutamakan prinsip kehematan. Singkat juga berarti tidak menyebabkan khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa, kehilangan banyak waktu berharga untuk menyimak karya jurnalistik kita. Sedangkan padat berarti syarat infomasi. Tidak Setiap paragraf singkat mengandung banyak infomasi. Sebaliknya tidak setiap paragraf yang mengandung banyak informasi tersajikan dalam paragraf-paragraf singkat.
3.3.8 Logis dan sistematis
Seluruh uraian yang terdapat dalam paragraf junalistik harus logis. Logis berarti sesuai dengan atau dapat diterima menurut pertimbangan akal sehat (common sense). Logis kata-katanya, logis frasa dan klausanya, logis kalimat-kalimatnya. Kelogisan itu juga tersaji secara sistematis. Sistematis berarti deretan kata dan kalimat yang terdapat dalam setiap paragraf jurnalistik, tertata dengan baik, runtut, bagaikan aliran air sungai dari hulu ke hilir.
3.3.9 Memiliki Karakter Khas
Setiap orang punya gaya, penampilan, dan karakter kepribadian masing-masing. Karakter itulah yang kemudian memberi identitas berbeda kepada setiap individu. Artinya identitas seseorang terbentuk karena sosok penampilan dan kepribadiannya. Begitu pula dengan karya-karya jurnalistik, harus memiliki karakter tertentu.
Karakter itu hanya mungkin muncul dalam paragraf-paragaraf jurnalistik apabila kita sebagai penulis atau jurnalis, sejak awal memiliki dan mengembangkan karakter atau gaya penulisan yang khas. Inilah antara lain yang menyebabkan mengapa seorang jurnalis kariernya terus berkembang dan dikenal luas masyarakat, sementara jurnalis yang lain seolah jalan di tempat dan tidak dikenal oleh masyarakat luas dan bahkan rekan-rekan sejawat seprofesinya sendiri.
AKU MASIH MENCINTAINYA
Jumat, 01 Juni 2012
pantun, puisi, iklan
1. PANTUN
a. Ciri-ciri atau Syarat-syarat Pantun
Menurut Zaidan Hendy (1990), pantun mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1) tiap bait terdiri atas empat baris kalimat,
2) tiap baris terdiri atas 4-6 kata atau 8-12 suku kata,
3) baris pertama dan kedua disebut sampiran dan baris ketiga dan keempat disebutisi,sampiran melukiskan alam dan kehidupan sedangkan isi pantun berkenaan dengan maksud pemantun,
4) bersajak silang atau a-b-a-b, artinya bunyi akhir baris pertama sama dengan bunyi akhir baris ketiga dan bunyi akhir baris kedua sama dengan bunyi akhir baris keempat,
5) pantun digunakan untuk pergaulan. Maka pantun selalu berisikan curahan perasaan, buah pikiran, kehendak, kenangan dan sebagainya,
6) tiap bait pantun selalu dapat berdiri sendiri, kecuali pada pantun berkait,
7) pantun yang baik, bermutu ada hubungannya antara sampiran dan isi.
Contoh:
Air dalam bertambah dalam,
hujan di hulu belum lagi teduh.
Hati dendam bertambah dendam,
dendam dahulu belum lagi sembuh.
b. Cara Menulis Pantun
Untuk menulis pantun, hal yang harus diperhatikan ialah
1. membuat topik atau tema
2. membuat isinya Misalnya: ”Dikota yang semakin ramai dan berkembang ini, ternyata mempunyai masalah lain yang sangat terkait dengan masalah kesehatan warganya, yaitu sampah yang berserakan di mana-mana . . . dan seterusnya.”
Pengertian dari kalimat di atas mungkin bisa lebih panjang, namun hal tersebut dapat diringkas dalam dua baris kalimat isi sebagai berikut
Jika sampah dibiarkan berserak,
penyakit diundang, masalah datang.
3. membuat sampirannya.
Misalnya:
Cantik sungguh si burung merak,
terbang rendah di waktu petang.
Kemudian antara sampiran dan isi baru disatukan menjadi;
Cantik sungguh si burung merak,
terbang rendah di waktu petang.
Jika sampah dibiarkan berserak,
penyakit diundang, masalah datang.
2. PUISI
Puisi adalah susunan kata yang indah, bermakna, dan terikat konvensi (aturan) serta unsur-unsur bunyi. Menulis puisi biasanya dijadikan media untuk mencurahkan perasaan, pikiran, pengalaman, dan kesan terhadap suatu masalah, kejadian, dan kenyataan di sekitar kita.
Tahap-tahap penciptaan puisi melalui empat tahap penting, yaitu sebagai berikut:
1. Pencarian ide, dilakukan dengan mengumpulkan atau menggali informasi melalui membaca, melihat, dan merasakan terhadap kejadian/peristiwa dan pengalaman(pribadi), sosial(masyarakat), ataupun universal(kemanusiaan dan ketuhanan).
2. Perenungan, yakni memilih atau menyaring informasi (masalah, tema, ide, gagasan) yang menarik dari ide yang didapat. Kemudian memikirkan, merenungkan, dan menafsirkan sesuai dengan konteks, tujuan, dan pengetahuan yang dimiliki.
3. Penulisan, merupakan proses yang paling genting dan rumit. Penulisan ini mengerahkan energi kreatif (kemampuan daya cipta), intuisi, dan imajinasi (peka rasa dan cerdas membayangkan), serta pengalaman dan pengetahuan. Untuk itulah, tahap penulisan hendak mencari dan menemukan kata ataupun kalimat yang tepat, singkat, padat, indah, dan mengesankan. Hasilnya kata-kata tersebut menjadi bermakna, terbentuk, tersusun, dan terbaca sebagai puisi.
4. Perbaikan atau revisi, yaitu pembaca ulang terhadap puisi yang telah diciptakan. Ketelitian dan kejelian untuk mengoreksi rangkaian kata, kalimat, baris, bait, sangat dibutuhkan. Kemudian, mengubah, mengganti, atau menyusun kembali setiap kata atau kalimat yang tidak atau kurang tepat. Oleh karena itu, proses revisi atau perbaikan ini memakan waktu lama hingga puisi tersebut telah dianggap ''menjadi'' tidak lagi dapat diubah atau diperbaiki oleh penulisnya.
Contoh:
Indonesia Menangis
Oleh : S. Afandi
Berabad-abad yang lalu, Indonesia menangis
Kinipun tetap menangis
Dahulu menangis karena letusan senapan
Oleh kejamnya sang penjajah
Tetapi kini. Ia menangis
Oleh datangnya bencana silih berganti
Begitu banyak korban dari keganasan bumi yang panas ini
Bahkan bocah-bocah kecil tak tahu dosa ikut menanggung
Oh... Tuhan apa salah kami?
Wahai penguasa......
Apakah kalian tidak lihat bencana-bencana ini
Apakah kalian memang tidak ingin tahu
Wahai penguasa.....
Buka mata kalian
Apakah kalian ingin menambah penderitaan ini
Dengan maling uang rakyat
Yang lagi tenar-tenarnya sekarang ini
Oh Tuhan................
Kapankah penderitaan ini akan berakhir?
Akankah Indonesia akan terus menangis untuk selamanya???
3. IKLAN
1. Cara Membuat Iklan
Menurut Kasali (1995: 83:86) iklan yang bagus paling tidak memenuhi kriteria rumus yang disebut AIDCA. Rumus itu merupakan singkatan dari dari elemen-elemen:
1. Attention (perhatian); iklan harus mampu menarik perhatian khalayak sasaran. Untuk itu, iklan membutuhkan bantuan ukuran, penggunaan warna, tata letak, atau suara-suara khusus.
2. Interest (minat); iklan berurusan dengan bagaimana konsumen berminat dan memiliki keinginan lebih jauh. Dalam hal ini konsumen harus dirangsang agar mau membaca, mendengar, atau menonton pesan-pesan yang disampaikan.
3. Desire(kebutuhan); yaitu mampu menggerakkan keinginan orang untuk memiliki atau menikmati produk tersebut.
4. Conviction (kebutuhan); yang artinya iklan harus mampu menciptakan kebutuhan calon pembeli. Konsumen mulai goyah dan emosinya mulai tersentuh untuk membeli produk tersebut.
5. Action (tindakan); berusaha membujuk calom pembeli agar sesegera mungkin melakukan suatu tindakan pembelian. Dalam hal ini dapat digunakan kata beli, ambil, hubungi, rasakan, gunakan, dan lain-lain.
Begitu juga golongan target audience atau calon konsumen dan ciri fungsi produk dariklan sangat mempengaruhi pemakaian kata-kata yang akan dipakai. Bahasa yang dipakai untuk iklan yang target audience-nya anak-anak tentu berbeda dengan iklan yang target audience-nya orang dewasa laki-laki .Bahasa yang dipakai untuk iklan rokok tentu berbeda dengan iklan yang dipakai untuk iklan obat masuk angin. Untuk iklan obat masuk angin copywriter dapat menggunakan kata "segeralah minum obat X", namun untuk iklan rokok kata-kata itu tidak dapat digunakan. Di sini yang membedakan adalah ciri fungsi iklan. Obat masuk angin dipakai langsung untuk mengobati penyakit yang sering diidap oleh masyarakat. Sementara rokok digunakan konsumen untuk kenikmatan dan gaya hidup.
2. Ciri ciri iklan yang baik
1. Mempunyai sasaran yang jelas,dengan menentukan target konsumen ada target utama dan target kedua,ini juga untuk menentukan media pasang iklan dan penetapan target konsumen tergantung pada kualitas,harga,distribusi(jangkauan pemasaran).
2. Mempunyai fokus atas hal yang ingin di komunikasikan dariproduk dan jasa yang di iklankan
3. Mempunyai daya tarik tertentu hingga konsumen yang di sasarnya bisa berhenti untuk memperhatikan isi iklan,selain kata kata menarik,daya tarik iklan muncul dari desain layout yang menarik
4. Sajikan iklan dengan menarik karena suatu iklan dengan isi pesan bagus jika tidak di sajikan bagus tak akan menarik.
5. Komunikasi iklan memiliki empat unsur utama yaitu:
a. Pengirim iklan adalah produsen atau dalam bisnis periklanan di wakili biro iklan.
b. Isi iklan dalam iklan ada headline kalimat singkat tidak lebih dari 10 kata dan di harapkan konsumen langsung dapat banyak informasi mengenai produk dan jasa body copy adalah informasi tambahan bila konsumen tertarik.
c. Media komunikasi tempat iklan di sajikan baik di media cetak,media elektronik atau media lainnya antara lain media internet yang penetrasinya di indonesia masih kurang,billboard dll.
d. Penerima iklan konsumen yang di sasar produk barang atau jasa kita
6. Pilihlah slogan dengan kata kata padat dan berisi yang merupakan gambaran terhadap headline di mana konsumen dapat membaca lebih detail.
Contoh:
swiss-bELHoTel
KENDARI
Akhir pekan seru
Di Swiss-Belhotel Kendari!!!
Dapatkan:
• Gratis makan malam untuk 2 orang di Swiis-Cafe’
• Gratis sarapan pagi untuk 2 orang di Swiss-Cafe’
• Gratis 1 jam karaoke di Denpasar Karaoke
• Gratis antar jemput ke pusat perbelanjaan
Informasi & Reservasi:
Jl. Edi Sabara No. 88 By Pass, Kendari
Tel: (0401) 3128777 Fax (0401) 3127799
Email: kendari@swiss-belhotel.com
a. Ciri-ciri atau Syarat-syarat Pantun
Menurut Zaidan Hendy (1990), pantun mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1) tiap bait terdiri atas empat baris kalimat,
2) tiap baris terdiri atas 4-6 kata atau 8-12 suku kata,
3) baris pertama dan kedua disebut sampiran dan baris ketiga dan keempat disebutisi,sampiran melukiskan alam dan kehidupan sedangkan isi pantun berkenaan dengan maksud pemantun,
4) bersajak silang atau a-b-a-b, artinya bunyi akhir baris pertama sama dengan bunyi akhir baris ketiga dan bunyi akhir baris kedua sama dengan bunyi akhir baris keempat,
5) pantun digunakan untuk pergaulan. Maka pantun selalu berisikan curahan perasaan, buah pikiran, kehendak, kenangan dan sebagainya,
6) tiap bait pantun selalu dapat berdiri sendiri, kecuali pada pantun berkait,
7) pantun yang baik, bermutu ada hubungannya antara sampiran dan isi.
Contoh:
Air dalam bertambah dalam,
hujan di hulu belum lagi teduh.
Hati dendam bertambah dendam,
dendam dahulu belum lagi sembuh.
b. Cara Menulis Pantun
Untuk menulis pantun, hal yang harus diperhatikan ialah
1. membuat topik atau tema
2. membuat isinya Misalnya: ”Dikota yang semakin ramai dan berkembang ini, ternyata mempunyai masalah lain yang sangat terkait dengan masalah kesehatan warganya, yaitu sampah yang berserakan di mana-mana . . . dan seterusnya.”
Pengertian dari kalimat di atas mungkin bisa lebih panjang, namun hal tersebut dapat diringkas dalam dua baris kalimat isi sebagai berikut
Jika sampah dibiarkan berserak,
penyakit diundang, masalah datang.
3. membuat sampirannya.
Misalnya:
Cantik sungguh si burung merak,
terbang rendah di waktu petang.
Kemudian antara sampiran dan isi baru disatukan menjadi;
Cantik sungguh si burung merak,
terbang rendah di waktu petang.
Jika sampah dibiarkan berserak,
penyakit diundang, masalah datang.
2. PUISI
Puisi adalah susunan kata yang indah, bermakna, dan terikat konvensi (aturan) serta unsur-unsur bunyi. Menulis puisi biasanya dijadikan media untuk mencurahkan perasaan, pikiran, pengalaman, dan kesan terhadap suatu masalah, kejadian, dan kenyataan di sekitar kita.
Tahap-tahap penciptaan puisi melalui empat tahap penting, yaitu sebagai berikut:
1. Pencarian ide, dilakukan dengan mengumpulkan atau menggali informasi melalui membaca, melihat, dan merasakan terhadap kejadian/peristiwa dan pengalaman(pribadi), sosial(masyarakat), ataupun universal(kemanusiaan dan ketuhanan).
2. Perenungan, yakni memilih atau menyaring informasi (masalah, tema, ide, gagasan) yang menarik dari ide yang didapat. Kemudian memikirkan, merenungkan, dan menafsirkan sesuai dengan konteks, tujuan, dan pengetahuan yang dimiliki.
3. Penulisan, merupakan proses yang paling genting dan rumit. Penulisan ini mengerahkan energi kreatif (kemampuan daya cipta), intuisi, dan imajinasi (peka rasa dan cerdas membayangkan), serta pengalaman dan pengetahuan. Untuk itulah, tahap penulisan hendak mencari dan menemukan kata ataupun kalimat yang tepat, singkat, padat, indah, dan mengesankan. Hasilnya kata-kata tersebut menjadi bermakna, terbentuk, tersusun, dan terbaca sebagai puisi.
4. Perbaikan atau revisi, yaitu pembaca ulang terhadap puisi yang telah diciptakan. Ketelitian dan kejelian untuk mengoreksi rangkaian kata, kalimat, baris, bait, sangat dibutuhkan. Kemudian, mengubah, mengganti, atau menyusun kembali setiap kata atau kalimat yang tidak atau kurang tepat. Oleh karena itu, proses revisi atau perbaikan ini memakan waktu lama hingga puisi tersebut telah dianggap ''menjadi'' tidak lagi dapat diubah atau diperbaiki oleh penulisnya.
Contoh:
Indonesia Menangis
Oleh : S. Afandi
Berabad-abad yang lalu, Indonesia menangis
Kinipun tetap menangis
Dahulu menangis karena letusan senapan
Oleh kejamnya sang penjajah
Tetapi kini. Ia menangis
Oleh datangnya bencana silih berganti
Begitu banyak korban dari keganasan bumi yang panas ini
Bahkan bocah-bocah kecil tak tahu dosa ikut menanggung
Oh... Tuhan apa salah kami?
Wahai penguasa......
Apakah kalian tidak lihat bencana-bencana ini
Apakah kalian memang tidak ingin tahu
Wahai penguasa.....
Buka mata kalian
Apakah kalian ingin menambah penderitaan ini
Dengan maling uang rakyat
Yang lagi tenar-tenarnya sekarang ini
Oh Tuhan................
Kapankah penderitaan ini akan berakhir?
Akankah Indonesia akan terus menangis untuk selamanya???
3. IKLAN
1. Cara Membuat Iklan
Menurut Kasali (1995: 83:86) iklan yang bagus paling tidak memenuhi kriteria rumus yang disebut AIDCA. Rumus itu merupakan singkatan dari dari elemen-elemen:
1. Attention (perhatian); iklan harus mampu menarik perhatian khalayak sasaran. Untuk itu, iklan membutuhkan bantuan ukuran, penggunaan warna, tata letak, atau suara-suara khusus.
2. Interest (minat); iklan berurusan dengan bagaimana konsumen berminat dan memiliki keinginan lebih jauh. Dalam hal ini konsumen harus dirangsang agar mau membaca, mendengar, atau menonton pesan-pesan yang disampaikan.
3. Desire(kebutuhan); yaitu mampu menggerakkan keinginan orang untuk memiliki atau menikmati produk tersebut.
4. Conviction (kebutuhan); yang artinya iklan harus mampu menciptakan kebutuhan calon pembeli. Konsumen mulai goyah dan emosinya mulai tersentuh untuk membeli produk tersebut.
5. Action (tindakan); berusaha membujuk calom pembeli agar sesegera mungkin melakukan suatu tindakan pembelian. Dalam hal ini dapat digunakan kata beli, ambil, hubungi, rasakan, gunakan, dan lain-lain.
Begitu juga golongan target audience atau calon konsumen dan ciri fungsi produk dariklan sangat mempengaruhi pemakaian kata-kata yang akan dipakai. Bahasa yang dipakai untuk iklan yang target audience-nya anak-anak tentu berbeda dengan iklan yang target audience-nya orang dewasa laki-laki .Bahasa yang dipakai untuk iklan rokok tentu berbeda dengan iklan yang dipakai untuk iklan obat masuk angin. Untuk iklan obat masuk angin copywriter dapat menggunakan kata "segeralah minum obat X", namun untuk iklan rokok kata-kata itu tidak dapat digunakan. Di sini yang membedakan adalah ciri fungsi iklan. Obat masuk angin dipakai langsung untuk mengobati penyakit yang sering diidap oleh masyarakat. Sementara rokok digunakan konsumen untuk kenikmatan dan gaya hidup.
2. Ciri ciri iklan yang baik
1. Mempunyai sasaran yang jelas,dengan menentukan target konsumen ada target utama dan target kedua,ini juga untuk menentukan media pasang iklan dan penetapan target konsumen tergantung pada kualitas,harga,distribusi(jangkauan pemasaran).
2. Mempunyai fokus atas hal yang ingin di komunikasikan dariproduk dan jasa yang di iklankan
3. Mempunyai daya tarik tertentu hingga konsumen yang di sasarnya bisa berhenti untuk memperhatikan isi iklan,selain kata kata menarik,daya tarik iklan muncul dari desain layout yang menarik
4. Sajikan iklan dengan menarik karena suatu iklan dengan isi pesan bagus jika tidak di sajikan bagus tak akan menarik.
5. Komunikasi iklan memiliki empat unsur utama yaitu:
a. Pengirim iklan adalah produsen atau dalam bisnis periklanan di wakili biro iklan.
b. Isi iklan dalam iklan ada headline kalimat singkat tidak lebih dari 10 kata dan di harapkan konsumen langsung dapat banyak informasi mengenai produk dan jasa body copy adalah informasi tambahan bila konsumen tertarik.
c. Media komunikasi tempat iklan di sajikan baik di media cetak,media elektronik atau media lainnya antara lain media internet yang penetrasinya di indonesia masih kurang,billboard dll.
d. Penerima iklan konsumen yang di sasar produk barang atau jasa kita
6. Pilihlah slogan dengan kata kata padat dan berisi yang merupakan gambaran terhadap headline di mana konsumen dapat membaca lebih detail.
Contoh:
swiss-bELHoTel
KENDARI
Akhir pekan seru
Di Swiss-Belhotel Kendari!!!
Dapatkan:
• Gratis makan malam untuk 2 orang di Swiis-Cafe’
• Gratis sarapan pagi untuk 2 orang di Swiss-Cafe’
• Gratis 1 jam karaoke di Denpasar Karaoke
• Gratis antar jemput ke pusat perbelanjaan
Informasi & Reservasi:
Jl. Edi Sabara No. 88 By Pass, Kendari
Tel: (0401) 3128777 Fax (0401) 3127799
Email: kendari@swiss-belhotel.com
Perkembangan Bahasa Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring dengan pembangunan nasional, bahasa terus berkembang. Proses perkembangan bahasa tidak lepas dari pembangunan nasional tersebut. Karena dari berbagai penyelenggaraan pembangunan nasional memerlukan berbagai ragam bahasa yang bisa menimbulkan bahasa ketiga yang dapat mempengaruhi bahasa yang dipakai pada saat proses penyelenggaraan nasinal berjalan. Oleh karena itu, bahasa selalu berkembang setiap saat dan kita sebagai masyarakat bangsa Indonesia yang memiliki bahasa nasional sekaligus sebagai bahasa negara wajib kita pertahankan sistem bahasa yang murni bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu. Atas dasar inilah, kami berusaha semaksimal mungkin untuk menyusun makalah ini sebagai wujud rasa cinta kami pada bahasa Indonesia.
Dalam makalah ini, kami mengemukakan tentang perkembagan bahasa yang dipengaruhi oleh pembangunan nasional. Agar ciri bahasa Indonesi yang khas agar dapat terjaga sangat diperlukan taraf pembakuan bahasa dan penyusunan sistem tulisan dapat memperhatikan perbedaan ragam baku dan subbaku dalam berbagai masalah pembakuan bahasa serta berbagai proses pemodernan bahasa yang dapat merubah ciri khas bahasa Indonesia.
Dari beberapa hal tersebut di atas, kami harapkan dapat menyelesaikan berbagai macam masalah kebahasaan khususnya ragam baku bahasa Indonesia. Walaupun bahasa Indonesia terus mengalami pemodernan tidak akan merubah kemurnian bahasa Indonesia.
B. Masalah
1. Apakah ada pengaruh pembangunan nasional terhadap perkembangan bahasa?
2. Bagaimanakah ciri-ciri dan situasi diglosia?
3. Apa saja kendala dalam pembakuan bahasa?
4. Apakah perbedaan ragam baku dan subbaku?
5. Dari segi manakah taraf kebakuan bahasa dapat dilihat?
6. Apa saja pengaruh pemordernan bahasa?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengaruh pembangunan nasional terhadap perkembangan bahasa.
2. Untuk mengetahui ciri-ciri dan situasi diglosia.
3. Untuk mengetahui kendala dalam pembakuan bahasa.
4. Untuk mengetahui perbedaan ragam baku dan subbaku.
5. Untuk melihat proses taraf kebakuan bahasa.
6. Untuk mengetahui pengaruh pemordernan bahasa
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pembangunan Nasional dan Pengembangan Bahasa
Pengembangan bahasa tidak melalui perencanaan ataupun berkembang dengan sendirinya, tetapi mengikuti arus perkembangan pembangunan nasional. Masyarakat yang membangun dan memgembangkan penyelenggaraan tata usaha kenegaraannya di dalam berbagai bidangnya seperti politik, ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, organisasi masyarakat lainnya mempunyai jaringan perhubungan dengan masyarakat lainnya. Hubungan masyarakat tersebut memakai dua bahasa, bahasa pertama dan bahasa kedua sehingga akan menimbulkan bahasa ketiga. Bahasa ketiga inilah yang akan memberikan konstribusi pengembangan pada bahasa ke dua masyarakat itu.
Bahasa nasional antara lain berfungsi sebagai alat yang memungkinkan penyatuan berbagai masyarakat berbeda-beda latar belakang sosial budaya dan bahasanya kedalam kesatuan kebangsaan Indonesia dan sebagai alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan (Halim: 1976).
Hubungan timbal balik antara pembangunan nasional dan pengembangan bahasa akan jadi sangat jelas pada waktu berlangsungnya perubahan masyarakat, misalnya arus urbanisasi, migrasi dan modernisasi, yang menuntut adanya fungsi-fungsi baru yang harus dijalankan fungsi-fungsi bahasa.
Menurut Ferguson (1962;1968), maka usaha pengembangan bahasa mempunyai tiga dimensi yang berkolerasi dengan tolok ukur pembangunan nasional yang sifatnya bukan bahasa. Ketiga dimensi itu ialah
1. Pengaksaraan
2. Pembakuan
3. Pemodernan bahasa
B. Pengaksaraan
Pengaksaraan dapat diartikan penggatian pemakaian tata aksara yang sudah lazim dengan tata aksara lain. Pengaksaraan bahasa mencangkup usaha menciptakan tata aksara atau tata tulis yang tidak terbatas pada pemilihan sistem ideogram dan menyangkut aturan lain yang di dalam sistem yang berdasarkan abjad. Pengaksaraan dikaitkan juga dengan usaha pemberantasan buta huruf atau keniraksaraan orang sehingga kemampuan baca tulis, atau dengan kata lain, taraf keberaksaraan di antara pemakai bahasa.
1. Penyusunan Sistem Tulisan
Penyusunan sistem tulisan untuk bahasa yang belum beraksara yang diusahakan dalam rangka pengembangan bahasa tidak dapat lepas dari aspek politik sosial-budaya masyarakat bahasa yang bersangkutan. Walaupun analisis dan transkripsi bahasa ke dalam bentuk tulisan merupakan tugas ahli linguistik, hasil akhirnya hanya dapat dimanfaatkan jika disetujui dan diterima oleh karangan luas.
Smalley (1963) memberikan ikhtisar tentang kemungkinan pelambangan ujaran oleh sistem tulisan pada pelbagai tulisannya. Pada tataran fonetik dapat direkakan tulisan fonetik yang mampu menandai segala perubahan bunyi yang kecil-kecil. Pada tataran fonemik dapat disusun ejaan fonemikyang melambangkan fonem, yang pewujudan fonetiknya dapat berbeda-beda, dengan grafem yang sama. Berdekatan dengan ejaan fonemik itu ialah sistem aksara sukuan yang tiap-tiap aksaranya.
Sistem tulisan dimanfaatkan untuk tujuan pelambangan yaitu bentuk perenggan (paragraf) dengan takuk yang menjorok ke dalam atau dengan spasi antara melambangkan satuan gagasan. Tanda kutipan ujaran; huruf kapital awal menandai antara lain nama diri dan pemiringan huruf antara lain menjadi isyarat bagi penegasan.
Joos (1960) menggambarkan sistem ortografi yang ideal yang memenuhi syarat berikut:
1. Ejaan itu sampai taraf tertentu harus bersifat morfofonemik agar kestabilan bentuk morfem terjaga
2. Ejaan itu harus memberikan peluang kepada setiap penutur bahasa sehingga ia dapat mewujudkan lambang fonem secara fonetis menurut ideoleknya
3. Ejaan itu harus seragam sehingga setiap dialek yang termasuk satu bahasa dapat dilambangkan
Di samping prinsip fonemik dan morfofonemik, ada juga prinsip etimologi yang diterapkan pada pasangan kata yang jadi homofon jika dieja menurut prinsip fonemik. Sedangkan prinsip beban fungsional yang bertalian dengan penting tidaknya kedudukan distingtif suatu fonem di dalam struktur fonologi bahasa yang bersangkutan. Jika kekerapan munculnya itu sangat tinggi, fonem itu dianggap memikul beban fungsional yang berat. Kita dapat menerapkan konsep beban fungsional itu juga pada tanda pelambang.
Munculnya usaha yang lazim disebut gerakan pembaruan ejaan atau reformasi ejaan. Berhasil tidaknya gerkan itu agaknya tidak semata-mata bergantung pada penimbangan orang tentang baik buruknya rancangan ejaan yang baru, tetapi juga pada sejumlah faktor yang ada diluarnya yaitu:
1. Ada tidaknya tradisi kepustakaan yang sudah lama
2. Tinggi rendahnya taraf keberaksaraan di dalam masyarakat
3. Hidup tidaknya kebudayaan membaca
4. Industri perbukuan
5. Ada tidaknya perubahan kemsyarakatan yang ditimbulkan peristiwa politik atau pergolakan budaya dan yang diungkapkan lewat perilaku kebahasaan
6. Watak bangsa
2. Bahasa Tulisan
Bahasa yang sudah memiliki bahasa tulis atau tata aksara dan secara teratur dipakai dalam tulisan dapat disebut bahasa yang beragam tulisan di samping ragam lisannya. Ujaranlah yang primer, tulisan yang sekunder. Pendirian itu mungkin timbul sebagai reaksi terhadap anggapan yang merata di antara orang awam bahwa bahasa yang sejati adalah ragam tulisan, sedangkan ragam lisan hanyalah seduhan yang tidak murni lagi. Bahwanya ada anggapan itu jadi petunjuk bahwa ragam tulisan memang hidup di samping ragam lisan dan ragam tulisan itu mengembangkan ciri-cirinya yang khas di bidang tata bahasa dan kosa kata, bahkan juga di dalam struktur fonologinya.
Setelah ragam tulisan menyebar, semua ragam lisan bahasa tidak dapat lagi diperikan di dalam kehampaan karena terjadinya proses pemengaruhan timbal-balik yang dapat berakibat bahwa ragam lisan dapat berubah ke ragam tulisan akibat sifatnya yang lebih konservatif.
Di dalam masyarakat bahasa yang lebih besar, sarana komunikasi yang paling sepadan ialah sandi bahasa yang dapat merentangi perbedaan waktu dan tempa. Bentuk bahasa itu ialah terutama ragam lisan. Berlainan dengan ragam lisan, ragam tulisan tidak dapat dikoreksi dengan seketika.
Menurut Ferguson (1962) yang diikuti Haugen (1969), taraf perkembangan bahasa diukur dari jurusan jenis tujuan pemakaian ragam tulisan, dibagi dalam beberapa golongan, yaitu:
1. Golongan pertama meliputi bahasa yang tidak atau belum dipakai untuk tujuan penulisan.
• Penulisan surat pribadi
• Pemakaiannya di dalam surat kabar atau majalah populer
• Pemakaiannya di dalam buku yang tidak merupakan terjemahan dari bahasa lain
2. Golongan kedua meliputi bahasa yang dipakai untuk tujuan penulisan biasa
3. Golongan ketiga mencakupi bahasa yang dipakai untuk merekam penelitian dan penulisan karya ilmiah yang diterbitkan
4. Golongan keempat merangkum bahasa di samping semuanya itu digunakan untuk penerjemahan karya ilmiah yang ditulis dalam bahasa lain.
C. Diglosia dan Bahasa Baku
1. Ciri-ciri Situasi Diglosia
Situasi diglosia dapat disaksikan didalam masyarakat bahasa jika dua ragam pokok bahasa, yang masing-masing mungkin memiliki berjenis subragam lagi yang dipakai secara berdampingan untuk fumgsi sosiolinguistik yang berbeda-beda. Ragam pokok yang satu yang dapat dianggap dilapiskan di atas ragam pokok yang lain, merupakan sarana kepustakaan kesusastraan yang muncul pada masa lampau masyarakat bahasa yang lain. Ragam pokok yang pertama dapat disebut ragam tinggi dan ragam pokok yang kedua dapat dinamai ragam rendah
Situasi diglosia cenderung muncul di dalam masyarakat bahasa jika salah satu atau dari ketiga kondisi yang berikut terrnuhi:
1. Keberaksaraan terbatas pada lapisan atas masyarakat yang kecil
2. Adanya kepustakaan yang dianggap pengejawantahan nilai-nilai budaya yang keramat
3. Jangka waktu yang lama (dalam ukuran abad) antara taraf kebreaksaraan masyarakat yang tinggi dan terjangkaunya kepustakaan itu oleh kebanyakan orang
Di dalam tradisi diglosia terdapat tradisi yang mengutamakan studi gramatikal tentang ragam yang tinggi. Hal ini dapat dipahami jika diingat bahwa ragam itulah yang diajarkan di dalam sistem persekolahan. Tradisi itulah yang meletakkan dasar bagi usaha pembakuan bahasa. Norma ragam pokok yang tinggi di bidang ejaan, tata bahasa dan kosa kata. Ragam rendah yang tidak mengenal modifikasi itu menunjukkan perkembangan ke arah keanekaragaman.
Situasi kebahasaan menunjukkan dan memperbedakan sekurang-kurangnya tiga diglosia yaitu:
1. Merujuk ke masyarakat bahasa yang secara umum dapat disebut ekabahasa sifatnya
2. Dapat disaksikan di dalam masyarakat aneka-bahasa
3. Melukiskan situasi kebahasaan yang lebih rumit
2. Situasi Diglosia di Indonesia
Ragam yang menurut tradisi disebut bahasa Melayu Klasik, yang terdapat di dalam kepustakaan lama,sejak dahulu berfungsi sebagai ragam pokok yang tinggi. Ragam itu jugalah yang dipakai sebagai bahasa istana, bahasa persuratan dan bahasa diplomasi. Ragam rendahnya dipakai oleh rakyat jelata yang kebanyakknya masih niraksarawan.
Dalam pada itu, terjadi proses lain yang sejajar. Ragam melayu tinggi dan/atau ragam rendahnya yang menyebar ula karena dibawa oleh saudagar, nelayan dan perantau. Dua hal dapat terjadi:
1. Ragam itu berkembang menjadi dialek melayu yang baru karena jumlah penutur aslinya dapat bertahan di daerah pemukiman yang baru
2. Ragam itu mengalami percampuran dan menjadi pijin di daerah bandar laut dan pusat perdagangan.
Schrieke menulis bahwa selama dasawarsa yamg lampau sejenis bahasa perhubungan melayu sedang berkembang yang dibina oleh kantor Volkslectuur (Balai Pustaka) dan beberapa koran bumiputra dan yang dipropagandakan oleh beberapa pembicara berbakat di dalam rapat-rapat pertemuan.
Selanjutnya kediglosiaan di dalam masyarakat bahasa Indonesia berakibat bahwa ragam bahasa baku akan dipakai di bidang kehidupan yang juga merupakan wadah bagi ragam pokok yang tinggi. Kridalaksana (1976) menyebut empat situasi yang yang menuntut pemakaian bahasa baku
1. Komunikasi resmi
2. Wacana teknis
3. Pembicaraan di depan umum
4. Pembicaraan denga orang yang dihormati
Jika perincian itu diklasifikasi menurut dua perangkat variabel sosiolinguistik yang silang-menyilang (Stewart 1962):
1. Perilaku publik lawan perilaku privat
2. Perilaku resmi lawan perilaku tidak resmi akan dipeoleh gambaran kapan pemakaian bahasa baku itu sifatnya bebas pilih.
Jenis situasi dan pemakaian bahasa baku Resmi Tidak resmi
Publik Bahasa baku b. baku, b. Subbaku atau b. Tidak baku
Privat B. baku, b. Subbaku atau b. Tidak baku b. subbaku atau b. Tidak baku
D. Pembakuan Bahasa
1. Norma Bahasa Baku
Secara tentatif dapat dikemukakan pendapat bahwa dewasa ini ada dua perangkat norma bahasa yang bertumpang tindih. Yang satu berupa norma yang dikodifikasi dalam bentuk buku tata bahasa sekolah dan diajarkan kepada para siswanya. Yang lain ialah norma berdasarkan adat pemakaian yang belum dikodifikasi secara resmi dan antara lain dianut oleh kalangan media massa dan sastrawan muda. Keduanya bertumpang tindih karena di samping berbagai inti bersama ada norma yang berlaku di sekolah tetapi yang tidak diikuti oleh media dan sebaliknya.
Bahwasanya ragam tinggi tulisan untuk sementara harus dipakai sebagai dasar patokan bukanlah hal yang tidak wajar. Karena pemahiran ragam itu diperoleh lewat pendidikan, kalangan penutur dan penulis teladan bahasa Indonesia tidak perlu dicari pada elite kekuasaan saja.
2. Pembakuan dan Keseragaman
Baku atau standar berpraanggapan adanya keseragaman. Proses pembakuan sampai taraf tertentu berarti penyeragaman norma dan kaidah. Keseragaman itu tentu tidak mutlak, baik menurut ukuran waktu maupun menurut ukuran tempat. Salah paham yang tersebar di kalangan awam berupa anggapan bahwa dengan pembakuan akan terjadi pembekuan.
Keseragaman berhubungan dengan ciri bahasa baku yang lain yakni kemantapan atau kestabilan yang luwes. Kemantapan itu sebenarnya berlaku untuk norma setiap bahasa, di dalam masyarakat bahasa primer dikarenakan kaidahnya jangan berubah-ubah setiap kali. Kodifikasi yang berupa ejaan, buku tata bahasa, kamus baku, atau kamus istilah membantu pemantapan kaidah dan norma bahasa. Pembakuan atau penstandaran bahasa dapat diselenggarakan oleh badan pemerintah yang resmi atau oleh organisasi swaata.
3. Fonologi dan Ejaan Baku
Realisasi fonem secara fonetis yang berlainan diakui, tetapi ada kalanya status fonem /f/, /z/,/s/ dan /x/ diragukan, atau ada statusnya hanyalah sebagai varian kelanggaman fonem sejati. Berikut ini diajukan pandangan alternatif yang bertumpu pada konsep diasistem yang dapat menampung:
1. Semmua varian fonetis sebagai pewujud fonem yang sama di dalam posisi yang sama
2. Gejala interferensi akibat masuknya unsur pungutan yang memperoleh tempat yang tetap, dan yang mengubah fonotaksis subsistem yang baku
Sistem konsonan dapat dianggap terdiri atas dua subsistem yang saling berdampingan. Yang satu berlaku untuk ragam baku, yang lain untuk ragam subbaku. Fonotaksis yang berhubungan dengan struktur suku kata mencerminkan lagi perbedaan di antara dua ragam yang bertumpu pada dua subsistem konsonan yang berbeda itu.
Pada tahun1975 aturan ejaan yang baku di lengkapi dengan buku “Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan” yang secara terperinci menjelaskan kaidah tentang:
1. Pemakaian huruf
2. Penulisan huruf
3. Penuilsan kata
4. Penulisan unsur serapan
5. Pemakaian tanda baca
4. Masalah Lafal Baku
Pembakuan lafal Indonesia merupan masalah yang rumit karena situasi keanekabahasaan. Di samping perbedaan lafal orang seorang sebagai akibat interferensi fonologi bahasa daerah yang menjadi bahsa pertamanya, terdapat juga kesenjangan antara fonologi ragam yang baku dan subbaku.
Andaikan keinginan akan pembakuan laafal diwujudkan sekarang, masalah yang timbul ialah lafal siapa yang harus dijadikan tolok agar dapat disebut lafal baku bahasa indonesia. Setakat ini, lafal baku ini dirumuskan dalam bentuk negatif: lafal yang tidak menunjukkan ciri-ciri kedaerahan.
5. Masalah Leksikon Baku
Pembakuan leksikon diusahakan lewat penyusunan kamus. Bahkan peranan kamus sebagai alat pembaku bahasa dalam kehidupan sehari-hari sangat besar daripada buku tata bahasa. Kamus yang paling besar wibawanya di Indonesia ialah kamus umum susunan Poerwadarminta (1952) yang sejak itu telah engalami revisi yang berulang-ulang. Kamus itu antara lain dimaksudkan untuk membantu pemakainya memahami kata dan ungkapan yang terdapat dalam kepustakaan susastra Melayu lama, kamus itu tidak dapat dianggap perekam leksikon bahasa Indonesia masa kini dalam arti yang sebenarnya.
6. Masalah Tata Bahasa
Tata bahasa didefenisikan sebagai seperangkat norma yang memerikan pemakaian bahasa, baik keteraturannya maupun penyimpangan dari keteraturannya itu. Moeliono (1978) mengajukan tiga jenis ketakpadaan yang menyebabkan keadaan yang mengambang-ngambang dai dalam pemantapan kaidah tata bahasa yang menyangkut:
1. Teori atau wawasan bahasa
2. Pelaksanaan wawasan itu
3. Produk pelaksanaan teori bahasa
Wawasan terhadap fonotaksis Indonesia yang tidak bertumpu pada perbedaan ragam baku dan yang subbaku menghasilkan uraian yang saling bertentangan. Di bidang morfologi, buku tata bahasa Indonesia yang beredar kurang eksplisit dalam pembedaan kalimat yang produktif dan yang tak produktif; kaidah yang wajib dan manasuka; kaidah yang daya terapnya luas dan daya terapnya sempit. Di bidang sintaksis, masalah hukum D-M dan M-D masih menjadi persoalan karena pengaruh bahasa asing terhadap bahasa Indonesia. Demi pemantapan kebakuan bahasa, buku tata bahasa sudah selayaknya memberikan pedoman bagi bentuk idiom yang hingga kini masih banyak bervariasi.
E. Perbedaan Ragam Baku dan Subbaku
1. Fonologi
Perbedaan di bidang fonologi yang dapat dicatat setakat ini sekurangnya-kurangnya mengenai tujuh hal:
1. Alternasi vokal
2. Alternasi konsonan
3. Penyerderhanaan deret vokal
4. Penyerderhanaan deret konsonan
5. Jumlah fonem frikatif
6. Penyerderhanaan diftong
7. Bentuk hiper-baku
2. Morfo-sintaksis
Di bidang morfo-sintaksis terlihat perbedaan di dalam pemakaian afiks yang menjadi penanda hubungan paradigmatis atau sintagmatis. Perbedaan itu dapat berupa:
1. Pelepasan afiks pada ragam subbaku
2. Kelainan dalam pemilihan afiks pada ragam subbaku
3. Sintaksis
Secara umum dapat dikatakan bahwa perbedaan di antara ragam bahasa baku dan subbaku di bidang sintaksis terletak pada taraf kekompleksan struktur. Ragam baku memiliki kategori sintaksis yang tidak dikenal di dalam ragam subbaku. Di samping itu, ada kategori di dalam ragam baku diwujudkan dengan morfem, sedangkan di dalam ragam subbaku hal itu dinyatakan dengan perifrase. Pola paradigmatis di dalam ragam subbaku lebih simetris; demikian pula halnya di dalam pemakaian sejumlah preposisi.
4. Leksikon
Pada umumnya, ragam bahasa baku berbagi leksikon dengan ragam subbaku. Ada variasi di dalam bentuk unsurnya, ada juga gejala tumpang tindih di dalam pemakaian unsur leksikal dan di dalam maknanya. Ragam bahasa baku memiliki sitilah keilmuan dan teknis yang tidak ada padanannya di dalam ragam subbaku. Sebaliknya, di dalam ragam subbaku terdapat sejumlah unsur leksikal yang populer, atau yang distribusi pemakaiannya sangat terbatas , dan yang tidak ada padanannya di dalam ragam baku. Di samping itu, ada pasangan sinonim yang kedua unsurnya terdapat di dalam ragam baku, tetapi hanya salah satu yang dipakai di dalam ragam subbaku.
F. Taraf Kebakuan Bahasa Indonesia
1. Sifat Instrinsik Bahasa Baku
Ada dua sifat instrinsik bahasa baku yang pernah disarankan:
1. Kemantapan yang luwes (flexible stability)
2. Kecendekiawan (intellectualization)
2. Fungsi Bahasa Baku
Garvin dan Mathiot selanjutnya memperbedakan empat fungsi yang didukung oleh bahasa baku. Tiga di antaranya bersifat pelambang atau simbolis, satu yang bersifat obyektif. Masing-masing diberi nama:
1. Fungsi pemersatu
2. Fungsi pemberi kekhasan
3. Fungsi pembawa wibawa
4. Fungsi sebagai kerangka acuan (frame of reference)
3. Sikap terhadap Bahasa Baku
Perangkat kriteria yang ketiga yang mengukur sikap masyarakat bahasa terhadap masyarakat bahasa baku terbawa oleh keempat fungsi yang dibawakan di atas, yaitu:
1. Sikap kesetiaan; diterbitkan oleh fungsi pemersatu dan fungsi pemberi kekhasan
2. Sikap kebanggaan bahasa; yang dihasilkan oleh fungsi pembawa wibawa
3. Sikap kesadaran akan norma dan kaidah bahasa baku; yang diakibatkan oleh fungsi sebagai kerangka acuan
G. Pemodernan Bahasa
Makna pemodernan bahasa di sini mencakupi menjadikan bahasa itu bertaraf sederajat secara fungsional dengan bahasa-bahasa lain yang lazim disebut bahasa terkembang yang sudah mantap. Pemodernan itu dapat juga dianggap proses penyertaan jadi warga keluarga bahasa di dunia yang memungkinkan penerjemahan timbal balik (keantarterjemahan) di dalam berbagai jenis wacana.
1. Pencendekiawan Bahasa
Pengukuran taraf kecendekiawan bahasa Indonesia masih memerlukan telaah lebih lanjut. Keperluan akan sifat kecendekiawan itu masih disangsikan oleh setengah orang karena karena sifat itu ditautkan dengan intelektualisme yang merupakan anatema di dunia pendidikan Indonesia. Ada juga sangkaan bahwa kecendekiawan itu akan mendesak aspek perasaan di dalam bahasa sehingga bahasa Indonesia sama sekali menjadi ‘kering’.
2. Pemekaran Kosa Kata
Cakrawala sosial budaya yang meluas melampui batas-batas peri kehidupan yang tertutup menimbulkan adanya keperluan adanya kata, istilah dan ungkapan baru dalam bahasa. Ada dua masalah yang bersangkutan dengan usaha pemekaran kosa kata. Yang pertama ialah masalah sumber bagi unsur leksikal yang baru; yang kedua bertalian dengan cara membentuk unsur yang baru itu dan memadukannya dengan kosa kata yang sudah ada.
Jika ditinjau dari taraf penyerapannya ke dalam tubuh bahasa Indonesia, bentuk pungutan itu ada yang dijadikan unsur kosa kata asing yang terdapat di dalam kosa kata umum. Golongan yang pertama meliputi bentuk yang melambangkan barang tau bentuk yang sangat baru bagi masyarakat bahasa pemungut atau yang medan maknanya sangat khusus di dalam bahasa sumber itu sendiri.
Golongan pungutan yang kedua dapat diperincimenjadi tiga kelompok:
1. Unsur pungutan yang mengalami penyesuaian bentuk fonologi atau ejaannya
2. Unsur pungutan yang mengalami proses penghibridan
3. Unsur pungutan yang merupakan hasil penerjemahan
Di sampina itu, dapat diajukan sekurang-kurangnya enam macam faktor dan pertimbangan yang rupanya dapat merangsang tindakan pemungutan. Faktor dan pertimbangan itu ialah:
1. Prinsip kehematan
2. Kejarangan bentuk asli
3. Keperluan akan kata yang searti
4. Pembedaan di dalam bahasa sendiri yang kurang cermat
5. Gengsi bahasa asing
6. Kemampuan berbahasa yang rendah
3. Pengembangan Laras Bahasa
Konsep laras bahasa mengacu ke ragam bahasa yang dipandang dari sudut kelayakannya di dalam berbagai jenis situasi pemakaian bahasa. Ragam bahasa yang disebut dialek ciri-cirinya lebih bergantung pada kekhasan penutur bahasa: tempat asalnya, pendidikannya, tempat tinggalnya sekarang,umurnya. Pemilihan unsur dari laras bahasa yang berbeda merupakan yang sering dibuat oleh penutur tidak asli dalam perilaku kebahasaannya.
Penggolongan laras bahasa dapat dilakukan menurut tiga dimensi yang masng-masing menggambarkan tipe situasi yang menjadi ajang peranan bahasa di dalamnya. Perinciannya sebagai berikut:
1. Laras bahasa dari sudut pandangan bidang atau pokok persoalan
2. Laras bahasa menurut sarana pengungkapannya
3. Laras bahasa berdasakan tata hubungan di antara penyerta peristiwa bahasa
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Pembanguna nasional sangat berpengaruh terhadap perkembangan bahasa terutama dengan munculnya bahasa ketiga. Ciri-ciri dan situasi diglosia dapat ditinja pada ragam bahasa rendah terutama pada lapisan masyarakat kecil. Pembakuan bahasa dapat dipengaruhi oleh norma bahasa baku, pembakuan dan keseragaman, fonologi dan ejaan baku, masalah lafal baku, masalah leksikon baku dan masalah tata bahasa. Perbedaan ragam baku dan subbaku dapat ditinjau dari fonologi, morfosintaksis, sintaksis dan leksikon. Sifat intrinsik, fungsi dan sikap terhadap bahasa baku dapat mempengaruhi taraf kebakuan bahasa. Pemodernan bahasa dipengaruhi oleh pemekaran kosa kata dan pengembangan laras bahasa.
B. Saran
1. Perlu adanya suatu lembaga yang mengawasi tentang pembakuan bahasa.
2. Pemeliharaan ciri khas bahasa perlu diwujudkan dengan sikap dan perbuatan sehari-hari.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring dengan pembangunan nasional, bahasa terus berkembang. Proses perkembangan bahasa tidak lepas dari pembangunan nasional tersebut. Karena dari berbagai penyelenggaraan pembangunan nasional memerlukan berbagai ragam bahasa yang bisa menimbulkan bahasa ketiga yang dapat mempengaruhi bahasa yang dipakai pada saat proses penyelenggaraan nasinal berjalan. Oleh karena itu, bahasa selalu berkembang setiap saat dan kita sebagai masyarakat bangsa Indonesia yang memiliki bahasa nasional sekaligus sebagai bahasa negara wajib kita pertahankan sistem bahasa yang murni bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu. Atas dasar inilah, kami berusaha semaksimal mungkin untuk menyusun makalah ini sebagai wujud rasa cinta kami pada bahasa Indonesia.
Dalam makalah ini, kami mengemukakan tentang perkembagan bahasa yang dipengaruhi oleh pembangunan nasional. Agar ciri bahasa Indonesi yang khas agar dapat terjaga sangat diperlukan taraf pembakuan bahasa dan penyusunan sistem tulisan dapat memperhatikan perbedaan ragam baku dan subbaku dalam berbagai masalah pembakuan bahasa serta berbagai proses pemodernan bahasa yang dapat merubah ciri khas bahasa Indonesia.
Dari beberapa hal tersebut di atas, kami harapkan dapat menyelesaikan berbagai macam masalah kebahasaan khususnya ragam baku bahasa Indonesia. Walaupun bahasa Indonesia terus mengalami pemodernan tidak akan merubah kemurnian bahasa Indonesia.
B. Masalah
1. Apakah ada pengaruh pembangunan nasional terhadap perkembangan bahasa?
2. Bagaimanakah ciri-ciri dan situasi diglosia?
3. Apa saja kendala dalam pembakuan bahasa?
4. Apakah perbedaan ragam baku dan subbaku?
5. Dari segi manakah taraf kebakuan bahasa dapat dilihat?
6. Apa saja pengaruh pemordernan bahasa?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengaruh pembangunan nasional terhadap perkembangan bahasa.
2. Untuk mengetahui ciri-ciri dan situasi diglosia.
3. Untuk mengetahui kendala dalam pembakuan bahasa.
4. Untuk mengetahui perbedaan ragam baku dan subbaku.
5. Untuk melihat proses taraf kebakuan bahasa.
6. Untuk mengetahui pengaruh pemordernan bahasa
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pembangunan Nasional dan Pengembangan Bahasa
Pengembangan bahasa tidak melalui perencanaan ataupun berkembang dengan sendirinya, tetapi mengikuti arus perkembangan pembangunan nasional. Masyarakat yang membangun dan memgembangkan penyelenggaraan tata usaha kenegaraannya di dalam berbagai bidangnya seperti politik, ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, organisasi masyarakat lainnya mempunyai jaringan perhubungan dengan masyarakat lainnya. Hubungan masyarakat tersebut memakai dua bahasa, bahasa pertama dan bahasa kedua sehingga akan menimbulkan bahasa ketiga. Bahasa ketiga inilah yang akan memberikan konstribusi pengembangan pada bahasa ke dua masyarakat itu.
Bahasa nasional antara lain berfungsi sebagai alat yang memungkinkan penyatuan berbagai masyarakat berbeda-beda latar belakang sosial budaya dan bahasanya kedalam kesatuan kebangsaan Indonesia dan sebagai alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan (Halim: 1976).
Hubungan timbal balik antara pembangunan nasional dan pengembangan bahasa akan jadi sangat jelas pada waktu berlangsungnya perubahan masyarakat, misalnya arus urbanisasi, migrasi dan modernisasi, yang menuntut adanya fungsi-fungsi baru yang harus dijalankan fungsi-fungsi bahasa.
Menurut Ferguson (1962;1968), maka usaha pengembangan bahasa mempunyai tiga dimensi yang berkolerasi dengan tolok ukur pembangunan nasional yang sifatnya bukan bahasa. Ketiga dimensi itu ialah
1. Pengaksaraan
2. Pembakuan
3. Pemodernan bahasa
B. Pengaksaraan
Pengaksaraan dapat diartikan penggatian pemakaian tata aksara yang sudah lazim dengan tata aksara lain. Pengaksaraan bahasa mencangkup usaha menciptakan tata aksara atau tata tulis yang tidak terbatas pada pemilihan sistem ideogram dan menyangkut aturan lain yang di dalam sistem yang berdasarkan abjad. Pengaksaraan dikaitkan juga dengan usaha pemberantasan buta huruf atau keniraksaraan orang sehingga kemampuan baca tulis, atau dengan kata lain, taraf keberaksaraan di antara pemakai bahasa.
1. Penyusunan Sistem Tulisan
Penyusunan sistem tulisan untuk bahasa yang belum beraksara yang diusahakan dalam rangka pengembangan bahasa tidak dapat lepas dari aspek politik sosial-budaya masyarakat bahasa yang bersangkutan. Walaupun analisis dan transkripsi bahasa ke dalam bentuk tulisan merupakan tugas ahli linguistik, hasil akhirnya hanya dapat dimanfaatkan jika disetujui dan diterima oleh karangan luas.
Smalley (1963) memberikan ikhtisar tentang kemungkinan pelambangan ujaran oleh sistem tulisan pada pelbagai tulisannya. Pada tataran fonetik dapat direkakan tulisan fonetik yang mampu menandai segala perubahan bunyi yang kecil-kecil. Pada tataran fonemik dapat disusun ejaan fonemikyang melambangkan fonem, yang pewujudan fonetiknya dapat berbeda-beda, dengan grafem yang sama. Berdekatan dengan ejaan fonemik itu ialah sistem aksara sukuan yang tiap-tiap aksaranya.
Sistem tulisan dimanfaatkan untuk tujuan pelambangan yaitu bentuk perenggan (paragraf) dengan takuk yang menjorok ke dalam atau dengan spasi antara melambangkan satuan gagasan. Tanda kutipan ujaran; huruf kapital awal menandai antara lain nama diri dan pemiringan huruf antara lain menjadi isyarat bagi penegasan.
Joos (1960) menggambarkan sistem ortografi yang ideal yang memenuhi syarat berikut:
1. Ejaan itu sampai taraf tertentu harus bersifat morfofonemik agar kestabilan bentuk morfem terjaga
2. Ejaan itu harus memberikan peluang kepada setiap penutur bahasa sehingga ia dapat mewujudkan lambang fonem secara fonetis menurut ideoleknya
3. Ejaan itu harus seragam sehingga setiap dialek yang termasuk satu bahasa dapat dilambangkan
Di samping prinsip fonemik dan morfofonemik, ada juga prinsip etimologi yang diterapkan pada pasangan kata yang jadi homofon jika dieja menurut prinsip fonemik. Sedangkan prinsip beban fungsional yang bertalian dengan penting tidaknya kedudukan distingtif suatu fonem di dalam struktur fonologi bahasa yang bersangkutan. Jika kekerapan munculnya itu sangat tinggi, fonem itu dianggap memikul beban fungsional yang berat. Kita dapat menerapkan konsep beban fungsional itu juga pada tanda pelambang.
Munculnya usaha yang lazim disebut gerakan pembaruan ejaan atau reformasi ejaan. Berhasil tidaknya gerkan itu agaknya tidak semata-mata bergantung pada penimbangan orang tentang baik buruknya rancangan ejaan yang baru, tetapi juga pada sejumlah faktor yang ada diluarnya yaitu:
1. Ada tidaknya tradisi kepustakaan yang sudah lama
2. Tinggi rendahnya taraf keberaksaraan di dalam masyarakat
3. Hidup tidaknya kebudayaan membaca
4. Industri perbukuan
5. Ada tidaknya perubahan kemsyarakatan yang ditimbulkan peristiwa politik atau pergolakan budaya dan yang diungkapkan lewat perilaku kebahasaan
6. Watak bangsa
2. Bahasa Tulisan
Bahasa yang sudah memiliki bahasa tulis atau tata aksara dan secara teratur dipakai dalam tulisan dapat disebut bahasa yang beragam tulisan di samping ragam lisannya. Ujaranlah yang primer, tulisan yang sekunder. Pendirian itu mungkin timbul sebagai reaksi terhadap anggapan yang merata di antara orang awam bahwa bahasa yang sejati adalah ragam tulisan, sedangkan ragam lisan hanyalah seduhan yang tidak murni lagi. Bahwanya ada anggapan itu jadi petunjuk bahwa ragam tulisan memang hidup di samping ragam lisan dan ragam tulisan itu mengembangkan ciri-cirinya yang khas di bidang tata bahasa dan kosa kata, bahkan juga di dalam struktur fonologinya.
Setelah ragam tulisan menyebar, semua ragam lisan bahasa tidak dapat lagi diperikan di dalam kehampaan karena terjadinya proses pemengaruhan timbal-balik yang dapat berakibat bahwa ragam lisan dapat berubah ke ragam tulisan akibat sifatnya yang lebih konservatif.
Di dalam masyarakat bahasa yang lebih besar, sarana komunikasi yang paling sepadan ialah sandi bahasa yang dapat merentangi perbedaan waktu dan tempa. Bentuk bahasa itu ialah terutama ragam lisan. Berlainan dengan ragam lisan, ragam tulisan tidak dapat dikoreksi dengan seketika.
Menurut Ferguson (1962) yang diikuti Haugen (1969), taraf perkembangan bahasa diukur dari jurusan jenis tujuan pemakaian ragam tulisan, dibagi dalam beberapa golongan, yaitu:
1. Golongan pertama meliputi bahasa yang tidak atau belum dipakai untuk tujuan penulisan.
• Penulisan surat pribadi
• Pemakaiannya di dalam surat kabar atau majalah populer
• Pemakaiannya di dalam buku yang tidak merupakan terjemahan dari bahasa lain
2. Golongan kedua meliputi bahasa yang dipakai untuk tujuan penulisan biasa
3. Golongan ketiga mencakupi bahasa yang dipakai untuk merekam penelitian dan penulisan karya ilmiah yang diterbitkan
4. Golongan keempat merangkum bahasa di samping semuanya itu digunakan untuk penerjemahan karya ilmiah yang ditulis dalam bahasa lain.
C. Diglosia dan Bahasa Baku
1. Ciri-ciri Situasi Diglosia
Situasi diglosia dapat disaksikan didalam masyarakat bahasa jika dua ragam pokok bahasa, yang masing-masing mungkin memiliki berjenis subragam lagi yang dipakai secara berdampingan untuk fumgsi sosiolinguistik yang berbeda-beda. Ragam pokok yang satu yang dapat dianggap dilapiskan di atas ragam pokok yang lain, merupakan sarana kepustakaan kesusastraan yang muncul pada masa lampau masyarakat bahasa yang lain. Ragam pokok yang pertama dapat disebut ragam tinggi dan ragam pokok yang kedua dapat dinamai ragam rendah
Situasi diglosia cenderung muncul di dalam masyarakat bahasa jika salah satu atau dari ketiga kondisi yang berikut terrnuhi:
1. Keberaksaraan terbatas pada lapisan atas masyarakat yang kecil
2. Adanya kepustakaan yang dianggap pengejawantahan nilai-nilai budaya yang keramat
3. Jangka waktu yang lama (dalam ukuran abad) antara taraf kebreaksaraan masyarakat yang tinggi dan terjangkaunya kepustakaan itu oleh kebanyakan orang
Di dalam tradisi diglosia terdapat tradisi yang mengutamakan studi gramatikal tentang ragam yang tinggi. Hal ini dapat dipahami jika diingat bahwa ragam itulah yang diajarkan di dalam sistem persekolahan. Tradisi itulah yang meletakkan dasar bagi usaha pembakuan bahasa. Norma ragam pokok yang tinggi di bidang ejaan, tata bahasa dan kosa kata. Ragam rendah yang tidak mengenal modifikasi itu menunjukkan perkembangan ke arah keanekaragaman.
Situasi kebahasaan menunjukkan dan memperbedakan sekurang-kurangnya tiga diglosia yaitu:
1. Merujuk ke masyarakat bahasa yang secara umum dapat disebut ekabahasa sifatnya
2. Dapat disaksikan di dalam masyarakat aneka-bahasa
3. Melukiskan situasi kebahasaan yang lebih rumit
2. Situasi Diglosia di Indonesia
Ragam yang menurut tradisi disebut bahasa Melayu Klasik, yang terdapat di dalam kepustakaan lama,sejak dahulu berfungsi sebagai ragam pokok yang tinggi. Ragam itu jugalah yang dipakai sebagai bahasa istana, bahasa persuratan dan bahasa diplomasi. Ragam rendahnya dipakai oleh rakyat jelata yang kebanyakknya masih niraksarawan.
Dalam pada itu, terjadi proses lain yang sejajar. Ragam melayu tinggi dan/atau ragam rendahnya yang menyebar ula karena dibawa oleh saudagar, nelayan dan perantau. Dua hal dapat terjadi:
1. Ragam itu berkembang menjadi dialek melayu yang baru karena jumlah penutur aslinya dapat bertahan di daerah pemukiman yang baru
2. Ragam itu mengalami percampuran dan menjadi pijin di daerah bandar laut dan pusat perdagangan.
Schrieke menulis bahwa selama dasawarsa yamg lampau sejenis bahasa perhubungan melayu sedang berkembang yang dibina oleh kantor Volkslectuur (Balai Pustaka) dan beberapa koran bumiputra dan yang dipropagandakan oleh beberapa pembicara berbakat di dalam rapat-rapat pertemuan.
Selanjutnya kediglosiaan di dalam masyarakat bahasa Indonesia berakibat bahwa ragam bahasa baku akan dipakai di bidang kehidupan yang juga merupakan wadah bagi ragam pokok yang tinggi. Kridalaksana (1976) menyebut empat situasi yang yang menuntut pemakaian bahasa baku
1. Komunikasi resmi
2. Wacana teknis
3. Pembicaraan di depan umum
4. Pembicaraan denga orang yang dihormati
Jika perincian itu diklasifikasi menurut dua perangkat variabel sosiolinguistik yang silang-menyilang (Stewart 1962):
1. Perilaku publik lawan perilaku privat
2. Perilaku resmi lawan perilaku tidak resmi akan dipeoleh gambaran kapan pemakaian bahasa baku itu sifatnya bebas pilih.
Jenis situasi dan pemakaian bahasa baku Resmi Tidak resmi
Publik Bahasa baku b. baku, b. Subbaku atau b. Tidak baku
Privat B. baku, b. Subbaku atau b. Tidak baku b. subbaku atau b. Tidak baku
D. Pembakuan Bahasa
1. Norma Bahasa Baku
Secara tentatif dapat dikemukakan pendapat bahwa dewasa ini ada dua perangkat norma bahasa yang bertumpang tindih. Yang satu berupa norma yang dikodifikasi dalam bentuk buku tata bahasa sekolah dan diajarkan kepada para siswanya. Yang lain ialah norma berdasarkan adat pemakaian yang belum dikodifikasi secara resmi dan antara lain dianut oleh kalangan media massa dan sastrawan muda. Keduanya bertumpang tindih karena di samping berbagai inti bersama ada norma yang berlaku di sekolah tetapi yang tidak diikuti oleh media dan sebaliknya.
Bahwasanya ragam tinggi tulisan untuk sementara harus dipakai sebagai dasar patokan bukanlah hal yang tidak wajar. Karena pemahiran ragam itu diperoleh lewat pendidikan, kalangan penutur dan penulis teladan bahasa Indonesia tidak perlu dicari pada elite kekuasaan saja.
2. Pembakuan dan Keseragaman
Baku atau standar berpraanggapan adanya keseragaman. Proses pembakuan sampai taraf tertentu berarti penyeragaman norma dan kaidah. Keseragaman itu tentu tidak mutlak, baik menurut ukuran waktu maupun menurut ukuran tempat. Salah paham yang tersebar di kalangan awam berupa anggapan bahwa dengan pembakuan akan terjadi pembekuan.
Keseragaman berhubungan dengan ciri bahasa baku yang lain yakni kemantapan atau kestabilan yang luwes. Kemantapan itu sebenarnya berlaku untuk norma setiap bahasa, di dalam masyarakat bahasa primer dikarenakan kaidahnya jangan berubah-ubah setiap kali. Kodifikasi yang berupa ejaan, buku tata bahasa, kamus baku, atau kamus istilah membantu pemantapan kaidah dan norma bahasa. Pembakuan atau penstandaran bahasa dapat diselenggarakan oleh badan pemerintah yang resmi atau oleh organisasi swaata.
3. Fonologi dan Ejaan Baku
Realisasi fonem secara fonetis yang berlainan diakui, tetapi ada kalanya status fonem /f/, /z/,/s/ dan /x/ diragukan, atau ada statusnya hanyalah sebagai varian kelanggaman fonem sejati. Berikut ini diajukan pandangan alternatif yang bertumpu pada konsep diasistem yang dapat menampung:
1. Semmua varian fonetis sebagai pewujud fonem yang sama di dalam posisi yang sama
2. Gejala interferensi akibat masuknya unsur pungutan yang memperoleh tempat yang tetap, dan yang mengubah fonotaksis subsistem yang baku
Sistem konsonan dapat dianggap terdiri atas dua subsistem yang saling berdampingan. Yang satu berlaku untuk ragam baku, yang lain untuk ragam subbaku. Fonotaksis yang berhubungan dengan struktur suku kata mencerminkan lagi perbedaan di antara dua ragam yang bertumpu pada dua subsistem konsonan yang berbeda itu.
Pada tahun1975 aturan ejaan yang baku di lengkapi dengan buku “Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan” yang secara terperinci menjelaskan kaidah tentang:
1. Pemakaian huruf
2. Penulisan huruf
3. Penuilsan kata
4. Penulisan unsur serapan
5. Pemakaian tanda baca
4. Masalah Lafal Baku
Pembakuan lafal Indonesia merupan masalah yang rumit karena situasi keanekabahasaan. Di samping perbedaan lafal orang seorang sebagai akibat interferensi fonologi bahasa daerah yang menjadi bahsa pertamanya, terdapat juga kesenjangan antara fonologi ragam yang baku dan subbaku.
Andaikan keinginan akan pembakuan laafal diwujudkan sekarang, masalah yang timbul ialah lafal siapa yang harus dijadikan tolok agar dapat disebut lafal baku bahasa indonesia. Setakat ini, lafal baku ini dirumuskan dalam bentuk negatif: lafal yang tidak menunjukkan ciri-ciri kedaerahan.
5. Masalah Leksikon Baku
Pembakuan leksikon diusahakan lewat penyusunan kamus. Bahkan peranan kamus sebagai alat pembaku bahasa dalam kehidupan sehari-hari sangat besar daripada buku tata bahasa. Kamus yang paling besar wibawanya di Indonesia ialah kamus umum susunan Poerwadarminta (1952) yang sejak itu telah engalami revisi yang berulang-ulang. Kamus itu antara lain dimaksudkan untuk membantu pemakainya memahami kata dan ungkapan yang terdapat dalam kepustakaan susastra Melayu lama, kamus itu tidak dapat dianggap perekam leksikon bahasa Indonesia masa kini dalam arti yang sebenarnya.
6. Masalah Tata Bahasa
Tata bahasa didefenisikan sebagai seperangkat norma yang memerikan pemakaian bahasa, baik keteraturannya maupun penyimpangan dari keteraturannya itu. Moeliono (1978) mengajukan tiga jenis ketakpadaan yang menyebabkan keadaan yang mengambang-ngambang dai dalam pemantapan kaidah tata bahasa yang menyangkut:
1. Teori atau wawasan bahasa
2. Pelaksanaan wawasan itu
3. Produk pelaksanaan teori bahasa
Wawasan terhadap fonotaksis Indonesia yang tidak bertumpu pada perbedaan ragam baku dan yang subbaku menghasilkan uraian yang saling bertentangan. Di bidang morfologi, buku tata bahasa Indonesia yang beredar kurang eksplisit dalam pembedaan kalimat yang produktif dan yang tak produktif; kaidah yang wajib dan manasuka; kaidah yang daya terapnya luas dan daya terapnya sempit. Di bidang sintaksis, masalah hukum D-M dan M-D masih menjadi persoalan karena pengaruh bahasa asing terhadap bahasa Indonesia. Demi pemantapan kebakuan bahasa, buku tata bahasa sudah selayaknya memberikan pedoman bagi bentuk idiom yang hingga kini masih banyak bervariasi.
E. Perbedaan Ragam Baku dan Subbaku
1. Fonologi
Perbedaan di bidang fonologi yang dapat dicatat setakat ini sekurangnya-kurangnya mengenai tujuh hal:
1. Alternasi vokal
2. Alternasi konsonan
3. Penyerderhanaan deret vokal
4. Penyerderhanaan deret konsonan
5. Jumlah fonem frikatif
6. Penyerderhanaan diftong
7. Bentuk hiper-baku
2. Morfo-sintaksis
Di bidang morfo-sintaksis terlihat perbedaan di dalam pemakaian afiks yang menjadi penanda hubungan paradigmatis atau sintagmatis. Perbedaan itu dapat berupa:
1. Pelepasan afiks pada ragam subbaku
2. Kelainan dalam pemilihan afiks pada ragam subbaku
3. Sintaksis
Secara umum dapat dikatakan bahwa perbedaan di antara ragam bahasa baku dan subbaku di bidang sintaksis terletak pada taraf kekompleksan struktur. Ragam baku memiliki kategori sintaksis yang tidak dikenal di dalam ragam subbaku. Di samping itu, ada kategori di dalam ragam baku diwujudkan dengan morfem, sedangkan di dalam ragam subbaku hal itu dinyatakan dengan perifrase. Pola paradigmatis di dalam ragam subbaku lebih simetris; demikian pula halnya di dalam pemakaian sejumlah preposisi.
4. Leksikon
Pada umumnya, ragam bahasa baku berbagi leksikon dengan ragam subbaku. Ada variasi di dalam bentuk unsurnya, ada juga gejala tumpang tindih di dalam pemakaian unsur leksikal dan di dalam maknanya. Ragam bahasa baku memiliki sitilah keilmuan dan teknis yang tidak ada padanannya di dalam ragam subbaku. Sebaliknya, di dalam ragam subbaku terdapat sejumlah unsur leksikal yang populer, atau yang distribusi pemakaiannya sangat terbatas , dan yang tidak ada padanannya di dalam ragam baku. Di samping itu, ada pasangan sinonim yang kedua unsurnya terdapat di dalam ragam baku, tetapi hanya salah satu yang dipakai di dalam ragam subbaku.
F. Taraf Kebakuan Bahasa Indonesia
1. Sifat Instrinsik Bahasa Baku
Ada dua sifat instrinsik bahasa baku yang pernah disarankan:
1. Kemantapan yang luwes (flexible stability)
2. Kecendekiawan (intellectualization)
2. Fungsi Bahasa Baku
Garvin dan Mathiot selanjutnya memperbedakan empat fungsi yang didukung oleh bahasa baku. Tiga di antaranya bersifat pelambang atau simbolis, satu yang bersifat obyektif. Masing-masing diberi nama:
1. Fungsi pemersatu
2. Fungsi pemberi kekhasan
3. Fungsi pembawa wibawa
4. Fungsi sebagai kerangka acuan (frame of reference)
3. Sikap terhadap Bahasa Baku
Perangkat kriteria yang ketiga yang mengukur sikap masyarakat bahasa terhadap masyarakat bahasa baku terbawa oleh keempat fungsi yang dibawakan di atas, yaitu:
1. Sikap kesetiaan; diterbitkan oleh fungsi pemersatu dan fungsi pemberi kekhasan
2. Sikap kebanggaan bahasa; yang dihasilkan oleh fungsi pembawa wibawa
3. Sikap kesadaran akan norma dan kaidah bahasa baku; yang diakibatkan oleh fungsi sebagai kerangka acuan
G. Pemodernan Bahasa
Makna pemodernan bahasa di sini mencakupi menjadikan bahasa itu bertaraf sederajat secara fungsional dengan bahasa-bahasa lain yang lazim disebut bahasa terkembang yang sudah mantap. Pemodernan itu dapat juga dianggap proses penyertaan jadi warga keluarga bahasa di dunia yang memungkinkan penerjemahan timbal balik (keantarterjemahan) di dalam berbagai jenis wacana.
1. Pencendekiawan Bahasa
Pengukuran taraf kecendekiawan bahasa Indonesia masih memerlukan telaah lebih lanjut. Keperluan akan sifat kecendekiawan itu masih disangsikan oleh setengah orang karena karena sifat itu ditautkan dengan intelektualisme yang merupakan anatema di dunia pendidikan Indonesia. Ada juga sangkaan bahwa kecendekiawan itu akan mendesak aspek perasaan di dalam bahasa sehingga bahasa Indonesia sama sekali menjadi ‘kering’.
2. Pemekaran Kosa Kata
Cakrawala sosial budaya yang meluas melampui batas-batas peri kehidupan yang tertutup menimbulkan adanya keperluan adanya kata, istilah dan ungkapan baru dalam bahasa. Ada dua masalah yang bersangkutan dengan usaha pemekaran kosa kata. Yang pertama ialah masalah sumber bagi unsur leksikal yang baru; yang kedua bertalian dengan cara membentuk unsur yang baru itu dan memadukannya dengan kosa kata yang sudah ada.
Jika ditinjau dari taraf penyerapannya ke dalam tubuh bahasa Indonesia, bentuk pungutan itu ada yang dijadikan unsur kosa kata asing yang terdapat di dalam kosa kata umum. Golongan yang pertama meliputi bentuk yang melambangkan barang tau bentuk yang sangat baru bagi masyarakat bahasa pemungut atau yang medan maknanya sangat khusus di dalam bahasa sumber itu sendiri.
Golongan pungutan yang kedua dapat diperincimenjadi tiga kelompok:
1. Unsur pungutan yang mengalami penyesuaian bentuk fonologi atau ejaannya
2. Unsur pungutan yang mengalami proses penghibridan
3. Unsur pungutan yang merupakan hasil penerjemahan
Di sampina itu, dapat diajukan sekurang-kurangnya enam macam faktor dan pertimbangan yang rupanya dapat merangsang tindakan pemungutan. Faktor dan pertimbangan itu ialah:
1. Prinsip kehematan
2. Kejarangan bentuk asli
3. Keperluan akan kata yang searti
4. Pembedaan di dalam bahasa sendiri yang kurang cermat
5. Gengsi bahasa asing
6. Kemampuan berbahasa yang rendah
3. Pengembangan Laras Bahasa
Konsep laras bahasa mengacu ke ragam bahasa yang dipandang dari sudut kelayakannya di dalam berbagai jenis situasi pemakaian bahasa. Ragam bahasa yang disebut dialek ciri-cirinya lebih bergantung pada kekhasan penutur bahasa: tempat asalnya, pendidikannya, tempat tinggalnya sekarang,umurnya. Pemilihan unsur dari laras bahasa yang berbeda merupakan yang sering dibuat oleh penutur tidak asli dalam perilaku kebahasaannya.
Penggolongan laras bahasa dapat dilakukan menurut tiga dimensi yang masng-masing menggambarkan tipe situasi yang menjadi ajang peranan bahasa di dalamnya. Perinciannya sebagai berikut:
1. Laras bahasa dari sudut pandangan bidang atau pokok persoalan
2. Laras bahasa menurut sarana pengungkapannya
3. Laras bahasa berdasakan tata hubungan di antara penyerta peristiwa bahasa
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Pembanguna nasional sangat berpengaruh terhadap perkembangan bahasa terutama dengan munculnya bahasa ketiga. Ciri-ciri dan situasi diglosia dapat ditinja pada ragam bahasa rendah terutama pada lapisan masyarakat kecil. Pembakuan bahasa dapat dipengaruhi oleh norma bahasa baku, pembakuan dan keseragaman, fonologi dan ejaan baku, masalah lafal baku, masalah leksikon baku dan masalah tata bahasa. Perbedaan ragam baku dan subbaku dapat ditinjau dari fonologi, morfosintaksis, sintaksis dan leksikon. Sifat intrinsik, fungsi dan sikap terhadap bahasa baku dapat mempengaruhi taraf kebakuan bahasa. Pemodernan bahasa dipengaruhi oleh pemekaran kosa kata dan pengembangan laras bahasa.
B. Saran
1. Perlu adanya suatu lembaga yang mengawasi tentang pembakuan bahasa.
2. Pemeliharaan ciri khas bahasa perlu diwujudkan dengan sikap dan perbuatan sehari-hari.
Pantun Bahasa Daerah Kambowa
Pantun Bahasa Daerah Kambowa
1. Aetando manu kampo
Bhebheino sirkaya
Akidho mieno kampo
Mie rumato norangkaya
2. Ane hela wae Malaysia
Sandatahemo antino bhatuno sinapa
Nela jandito nosia-sia
Mpampeaesi tulang mpampuru
3. Aeperbua singkaru lola
Aeperbuahane pake piso
Aeporae ana sikola
Satamano takumawimo
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia
1. Saya pasang jerat ayam hutan
Tiangnya batang sirsak
Saya tidak mau orang kampung
Orang pendatang dia kaya
2. Kalau merantau di Malaysia
Sedia memang anti peluru senapan
Kita berjanji sia-sia
Karena kamu selalu marah-marah
3. Saya buat cincin dari lola
Saya buat memakai pisau
Berpacaran dengan anak sekolah
Setelah tamat kami menikah
Tugas:
Sastra Daerah
Program studi
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011
1. Aetando manu kampo
Bhebheino sirkaya
Akidho mieno kampo
Mie rumato norangkaya
2. Ane hela wae Malaysia
Sandatahemo antino bhatuno sinapa
Nela jandito nosia-sia
Mpampeaesi tulang mpampuru
3. Aeperbua singkaru lola
Aeperbuahane pake piso
Aeporae ana sikola
Satamano takumawimo
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia
1. Saya pasang jerat ayam hutan
Tiangnya batang sirsak
Saya tidak mau orang kampung
Orang pendatang dia kaya
2. Kalau merantau di Malaysia
Sedia memang anti peluru senapan
Kita berjanji sia-sia
Karena kamu selalu marah-marah
3. Saya buat cincin dari lola
Saya buat memakai pisau
Berpacaran dengan anak sekolah
Setelah tamat kami menikah
Tugas:
Sastra Daerah
Pantun Bahasa Daerah Kambowa
Oleh:
SAHIRUDIN
No. STB. A2D1 09109
SAHIRUDIN
No. STB. A2D1 09109
Program studi
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011
metode pembelajaran Problem Based Learning
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penerapan KBK merupakan terobosan baru dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Rumusan kompetensi dalam KBK merupakan pernyataan apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan kelas yang sekaligus menggambarkan kemajuan yang dicapai siswa secara bertahap dan berkelanjutan untuk mencapai kompeten. Penerapan KBK memberikan sumbangan perubahan yang besar dalam kegiatan belajar mengajar yang membuat gagasan-gagasan pokok tentang pembelajaran agar tidak mekanistik.
Secara alami manusia selalu menghadapi masalah dalam kehidupannya yang harus diselesaikan. Karena itu selayaknyalah jika manusia termasuk siswa pada khususnya perlu berlatih menyelesaikan masalah. Pendidikan tidak hanya mengajarkan fakta dan konsep tetapi juga harus membekali peserta didik untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan ini. Dengan kondisi dan situasi yang demikian ini, pembelajaran yang semestinya disusun ialah berdasarkan masalah. Perubahan cara pandang terhadap siswa sebagai objek menjadi subjek dalam proses pembelajaran menjadi titik tolak banyak ditemukannya berbagai pendekatan pembelajaran yang inovatif. Guru dituntut dapat memilih model pembelajaran yang dapat memacu semangat setiap siswa untuk secara aktif ikut terlibat dalam pengalaman belajarnya. Salah satu alternative model pembelajaran yang memungkinkan dikembangkannya ketrampilan berpikir siswa (penalaran, komunikasi, dan koneksi) dalam memecahkan masalah adalah Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)
Menurut Tan (2003) Pembelajaran berbasis masalah merupakan inovasi dalam pembelajaran karena dalam PBM kemampuan atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan berpikirnya secara seimbang. Karena pada dasarnya, berpikir terjadi dalam konteks memecahkan masalah, yaitu adanya kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan apa yang ada. Seseorang menjadi tertarik atau berminat mengerjakan sesuatu apabila berada dalam ruang lingkup atau berkaitan dengan masalah yang dihadapinya.
Demikian pula dengan belajar, Pada saat mempelajari bahan pelajaran, siswa ingin segera mengetahui apa sebenarnya manfaat mempelajarinya, dan masalah apa sajakah yang dapat dipecahkan dengan pengetahuan atau bahan itu. Suatu kompetensi paling efektif dicapai oleh pelajar melalui serangkaian pengalaman pemecahan masalah realistik yang di dalamnya si pelajar secara langsung menerapkan unsur-unsur kompetensi tersebut.
Dilihat dari aspek psikologi belajar pembelajaran berbasis masalah bersandarkan kepada psikologi kognitif yang berangkat dari asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Belajar bukan semata-mata proses menghafal sejumlah fakta, tetapi suatu proses interaksi secara sadar antara individu dengan lingkungannya. Melalui proses ini sedikit demi sedikit siswa akan berkembang secara utuh. Artinya, perkembangan siswa tidak hanya terjadi pada aspek kognitif tetapi juga aspek afektif dan psikomotor melalui pengahayatan secara internal akan problema yang dihadapi.
Dilihat dari aspek filosofis tentang fungsi sekolah sebagai arena atau wadah untuk mempersiapkan anak didik agar dapat hidup di masyarakat, maka pembelajaran berbasis masalah merupakan strategi yang memungkinkan dan sangat penting untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan pada kenyataannya setiap manusia akan selalu dihadapkan dengan masalah.
Dilihat dari konteks perbaikan kualitas pendidikan, maka pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk memperbaiki system pembelajaran. Namun, pada kenyataannya tidak semua guru memahami konsep PBM tersebut, baik disebabkan oleh kurangnya keinginan dan motivasi untuk meningkatkan kualitas keilmuan tenaga pendidik.
Begitu juga dengan siswa selama ini kemampuan siswa untuk dapat menyelesaikan masalah kurang diperhatikan oleh setiap guru. Akibatnya, manakala siswa menghadapi masalah walaupun masalah itu dianggap itu sepeple, banyak siswa yang tidak dapat menyelesaikannya dengan baik. Tidak sedikit siswa yang mengambil jalan pintas, misalnya dengan mengkonsumsi obat-obatan terlarang atau bahkan bunuh diri hanya gara-gara ia tidak sanggup memecahkan masalah.
B. Masalah
1. Bagaimanakah cara penerapan metode Problem Based Learning?
2. Apakah pengertian Problem Based Learning?
3. Bagaimana Langkah-langkah Problem Based Learning?
4. Apa saj kelemahan dan kelebihan metode Problem Based Learning?
BAB II
PEMBAHASAN
A. PROBLEM BASED LEARNING (PBL)
1. Pengertian
Adalah belajar dengan memanfaatkan masalah dan mahasiswa harus melakukan pencarian atau penggalian informasi (inquiry) untuk memecahkan masalah tersebut
Problem based Learning atau Pembelajaran berbasis masalah dapat diartikan juga sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah..
2. Tujuan
a. Membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa.
b. Membantu siswa mengembangkan kemampuan berfikir, pemecahan masalah dan ketrampilan intelektual, belajar tentang berbagai peran orang dewasa melalui perlibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi, dan menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri.
3. Ciri-ciri PBL
a. Belajar dimulai dengan suatu masalah.
b. Memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata
c. Mengorganisasikan pelajaran di seputar masalah
d. Memberikan tanggung jawab yang besar kepada pembelajar
e. Menggunakan kelompok kecil
f. Menuntut siswa untuk mendemontrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja
Menurut Wina Sanjaya dalam bukunya Strategi Pembelajaran Berorientasi standar proses pendidikan, menyebutkan bahwa dalam PBL/ pembelajaran berbasis masalah ini mempunyai 3 ciri utama, yaitu
a. PBL merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. PBL tidak mengharapkan siswa yang hanya sekedar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafasl metri pelajaran, akan tetapi melalui PBL siswa aktif berfikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan.
b. Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. PBL Menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran, Artinya tanpa masalah maka tidak mungkin ada proses pembelajaran.
c. Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berfikir deduktif dan induktif.
4. Strategi
Strategi pembelajaran dengan pemecahan masalah dapat diterapkan :
a. Manakala guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar dapat mengingat materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh
b. Apabila guru bermaksud untuk mengembangkan keterampilan berpikir rasional siswa, yaitu kemampuan menganalisis situasi, menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dalam situasi baru, mengenal adanya perbedaan antara fakta dan pendapat, serta mengembangkan kemmapuan dalam membuat judgment secara objektif
c. Manakala guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah serta membuat tantangan intelektual siswa
d. Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajarnya
e. Jika guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupannya (hubungan antara teori dengan kenyataan)
5. Hakikat Masalah Dalam PBL
Pbl dan strategi pembelajaran inkuiri (SPI) memiliki perbedaan, perbedaan tersebut terletak pada jenis masalah serta tujuan yang ingin dicapai. Masalah dalam SPI adalah masalah yang bersifat tertutup, artinya jawaban dari masalah itu sudah pasti, oleh sebab itu jawaban dari masalah yang dikaji itu sebenarnya guru sudah mengetahui dan memahaminya, namun guru tidak secara langsung menyampaikannya kepada siswa. Dalam SPI tugas guru pada dasarnya menggiring siswa melalui proses Tanya jawab pada jawaban yang sebenarnya sudah pasti. Tujuan yang ingin dicapai oleh SPI adalah menumbuhkan keyakinan dalam diri siswa tentang jawaban dari suatu masalah.
Berbeda dengan SPI, masalah dalam PBL adalah masalah yang bersifat terbuka. Artinya jawaban dari masalah tersebut belum pasti. Setiap siswa, bahkan guru dapat mengembangkan kemungkinan jawaban. Dengan demikian, PBL memberikan kesempatan pada siswa untuk bereksplorasi mengumpulkan dan menganalisis data secara lengkap untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Yujuan yang ingin dicapai adalah kemampuan siswa untuk berpikir kritis, analitis, sistematis dan logis untuk menemukan alternative pemecahan masalah melalui eksplorasi data secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah.
Kriteria pemilihan bahan pelajaran dalam PBL :
a. Bahan pelajaran harus mengundang isu-isu yang mengandung konflik yang bisa bersumber dari berita, rekaman video dan yang lainnya
b. Bahan yang dipilih adalah bahan yang bersifat familier dengan siswa, sehingga setiap siswa dapat mengikutinya dengan baik
c. Bahan yang dipilih merupakan bahan yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak (universal), sehingga terasa manfaatnya
d. Bahan yang dipilih merupakan bahan yang mendukung tujuan atau kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku
e. Bahan yang dipilih sesuai dengan minat siswa sehingga setiap siswa merasa perlu untuk mempelajarinya.
6. Tahapan PBL
Menurut Jarot Subandono, inti dari kegiatan metode belajar Problem Based Learning ini ada pada diskusi tutorial. Terdapat tujuh langkah yang harus dilakukan dalam diskusi tutorial, yang disebut dengan Seven Jumps. Deskripsi dari ketujus langkah tersebut adalah sebagai berikut :
Langkah 1.
Menjelaskan istilah yang belum diketahui
• Proses : Mahasiswa menentukan beberapa kata yang artinya kurang/belum jelas, anggota kelompok yang lain mungkin dapat memberikan definisinya/penjelasannya. Mahasiswa sebaiknya dikondisikan agar merasa “aman/safe” dalam berpendapat sehingga memungkinkan mereka “jujur” tentang segala hal yang belum dipahaminya.
• Alasan : istilah yang belum diketahui berlaku sebagai suatu “penghambat” untuk dipahami. Penjelasan yang hanya sebagian saja dipahami/tidak menyeluruh sekalipun, dapat untuk memulai proses pembelajaran
• Hasil : Kata-kata /istilah yang artinya belum dapat disetujui oleh kelompok, harus didaftar sebagai tujuan pembelajaran.
• Perhatian: Mahasiswa kadang-kadang terjebak terlalu lama diskusi pada langkah 1 ini sehingga waktunya hampir habis dan mengalami fenomena mengibarkan bendera, maka sebaiknya istilah asing dijelaskan secukupnya saja.
Langkah (2).
Menetapkan permasalahan
• Proses : Tahap ini merupakan suatu pembahasan terbuka dimana mahasiswa didorong agar menyumbangkan pendapatnya tentang permasalahan yang ada dalam bentuk diskusi. Tutor harus mendorong/memotivasi mereka semua untuk menyumbangkan analisis secara cepat dan luas.
• Alasan : Dimungkinkan bagi setiap anggota kelompok tutorial untuk mempunyai pandangan yang berbeda terhadap suatu masalah. Membandingkan dan mengumpulkan pendapat yang luas akan memperkaya khasanah intelektual dari permasalahan yang dibahas tersebut
• Hasil : Daftar pokok-pokok persoalan untuk dijelaskan.
Langkah (3).
Curah pendapat/brainstorming tentang hipotesis atau penjelasan yang ada.
• Proses : Merupakan kelanjutan dari pembahasan secara terbuka, namun sekarang mahasiswa mencoba untuk merumuskan, menguji dan membandingkan keunggulan secara relatif dari hipotesis yang ada sebagai penjelasan permasalahan atau kasus. Tutor perlu untuk mempertahankan diskusi pada taraf hipotesis dan tidak dianjurkan menuju pada hal-hal yang terlalu detil/terperinci secara cepat. Dalam hal ini:
a. Hipotesis berarti suatu pengandaian yang dibuat sebagai dasar untuk membuat alasan tentang kebenaran ilmiah atau sebagai titik awal bagi penyelidikan lebih lanjut.
b. Penjelasan artinya, menjadikan tahu secara terperinci dan membuatnya dapat dimengerti, dengan suatu maksud untuk menimbulkan saling pengertian.
• Alasan : Tahap ini merupakan langkah yang penting, yang mendorong digunakannya pembelajaran dari tahap sebelumnya berdasarkan pengetahuan atau ingatan/memori sebelumnya (prior knowledge) dan membiarkan mahasiswa untuk menguji pemahaman yang telah dimilikinya satu sama lain. Hubungan/ mata rantai dapat terbentuk antara pokok-pokok persoalan dari pengetahuan yang belum lengkap yang ada dalam kelompok tersebut. Jika dapat ditangani dengan baik oleh tutor dan grupnya, tahap ini dapat menempatkan pembelajaran pada tingkat pemahaman yang lebih baik.
• Hasil : Daftar hipotesis atau penjelasan.
• Masalah : prior knowledge mahasiswa sering diragukan tutor.
Langkah (4).
Menyusun penjelasan dalam suatu pemecahan masalah/ solusi sementara.
• Proses : Mahasiswa akan memikirkan sebanyak mungkin penjelasan yang berbeda dari apa yang sedang terjadi. Permasalahan diperiksa dengan teliti secara terperinci dan dibandingkan dengan usulan hipotesis atau penjelasan, untuk melihat bagaimana mereka akan mencocokkan dan jika diperlukan eksplorasi lebih lanjut. Tahap ini merupakan permulaan proses dari penjelasan tujuan pembelajaran/Learning Objective (LO), walaupun tidak dianjurkan bagi mahasiswa untuk merekam dengan segera dalam bentuk tulisan.
• Alasan : Tahap ini memproses secara aktif dan menstruktur kembali pengetahuan yang ada dan mengenali kesenjangan pemahaman. Mencatat tujuan pembelajaran (LO) secara cepat akan menghalangi/menghambat pemikiran dan memperpendek proses berpikir intelektual dan menghasilkan tujuan yang terlalu luas dan superfisial.
• Hasil : tahap ini meliputi pengorganisasian penjelasan tentang permasalahan, menunjukkannya secara skematis, mencoba untuk menghubungkan ide-ide baru diantara sesama teman, dengan pengetahuan yang dimiliki dan dengan susunan kata-kata/konteks yang berbeda. Proses ini menyediakan suatu hasil visual tentang hubungan antara bagian-bagian informasi yang berbeda dan memfasilitasi ”penyimpanan ” informasi dalam ingatan jangka panjang.
Langkah (5).
Menjelaskan Tujuan Pembelajaran (LO)
• Proses : Kelompok menyetujui tujuan pembelajaran yang akan dipelajari oleh semua mahasiswa. Tutor mendorong mereka agar dapat fokus, untuk tidak terlalu luas atau superfisial dan dapat tercapai dalam waktu yang tersedia. Beberapa mahasiswa mungkin mempunyai tujuan pembelajaran (LO) yang tidak dibagikan kepada seluruh anggota kelompok oleh karena kebutuhan dan ketertarikan secara individual/pribadi.
• Alasan : Proses membentuk kesepakatan menggunakan kemampuan segenap kelompok tutorial (termasuk tutor) untuk menyusun diskusi selanjutnya dalam tujuan pembelajaran yang tepat/cocok dan dapat dicapai. Dalam hal ini tidak hanya menjelaskan tujuan pembelajaran namun juga membawa kelompok secara bersama-sama dan menyimpulkan diskusi.
• Hasil : Tujuan Pembelajaran, hal ini merupakan hasil utama dari pekerjaan awal kelompok dalam PBL. Tujuan Pembelajaran seharusnya/ disarankan dalam bentuk persoalan pokok/isu yang ditujukan terhadap pertanyaan atau hipotesis yang spesifik.
Langkah (6).
Pengumpulan Informasi dan belajar mandiri
• Proses : Tahap ini meliputi pencarian bahan dalam buku teks, mengumpulkan hasil pencarian literatur elektronik dari Internet, konsultasi pakar atau hal-hal lainnya yang dapat membantu menyediakan informasi yang sedang dicari oleh mahasiswa. Suatu proses PBL yang diorganisasikan dengan baik akan mencakup penyelenggaraan kursus atau adanya buku panduan blok yang menyediakan saran-saran dalam bagaimana caranya memperoleh sumber-sumber pembelajaran spesifik yang mungkin sukar untuk didapatkan/diakses, supaya jangan terjadi fenomena CBSA seperti di tingkat SMU.
• Alasan : Secara jelas, suatu bagian penting dari proses pembelajaran dalam pengumpulan dan perolehan informasi baru, dimana mahasiswa mengerjakannya secara individual maupun bersama-sama.
• Hasil : Catatan individual dan kelompok mahasiswa
Langkah (7).
Membagi/ Berbagi hasil pengumpulan informasi dan belajar mandiri
• Proses : Hal ini membutuhkan waktu beberapa hari (sekitar 3 hari) setelah pertemuan tahap I (langkah 1-5). Mahasiswa mulai kembali pada daftar tujuan pembelajaran. Pertama-tama mereka mengidentifikasi/mengenali sumber belajar yang didapatnya sendiri, mengumpulkan informasi yang mereka dapat dari belajar mandiri dan membantu teman-teman lainnya memahami dan mengenali hal-hal yang susah selanjutnya/kemudian, untuk dipelajari lebih lanjut atau dengan bantuan pakar. Mahasiswa mencoba untuk melakukan dan menghasilkan analisis yang menyeluruh dari permasalahan yang ada.
• Alasan : Pada tahap ini menyusun apa yang telah dikerjakan kelompok, menggabungkan pembelajaran dan mengenali daerah/area yang belum pasti, yang memungkinkan untuk pembelajaran lebih lanjut. Pembelajaran mungkin tidak berakhir secara menyeluruh dan berakhir secara terbuka, Namur hal ini sungguh/ memang diperlukan kehati-hatian/ tidak terburu-buru karena mahasiswa seharusnya kembali ke topik-topik pembicaraan tersebut ketika pencetus/trigger yang cocok muncul kembali di kemudian hari.
• Hasil : Catatan individual mahasiswa / laporan
7. Keunggulan dan Kelemahan PBL
a. Keunggulan
1) Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran
2) Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa
3) Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa
4) Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembanhkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Di samping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses
5) Melalui pemecahan masalah bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran merupakan cara berpikir dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.
6) Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa
7) Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru
8) Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata
9) Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir
b. Kelemahan
1) Jika siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba
2) Keberhasilan strategi pembelajarn melalui problem based learning membutuhkan cukup waktu untuk persiapan
3) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari
B. PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL)
Ada beberapa cara menerapkan PBL (Problem Based Learning) dalam pembelajaran. Secara umum penerapan model ini dimulai dengan adanya masalah yang harus dipecahkan oleh peserta didik. Masalah tersebut dapat berasal dari peserta didik atau dari pendidik. Peserta didik akan memusatkan pembelajaran di sekitar masalah tersebut, dengan arti lain, peserta didik belajar teori dan metode ilmiah agar dapat memecahkan masalah yang menjadi pusat perhatiannya. Pemecahan masalah dalam PBL harus sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah. Dengan demikian peserta didik belajar memecahkan masalah secara sistematis dan terencana.
Menurut Agus dalam buku cooperative learning, strategi pembelajaran berbasis masalah terdiri dari 5 fase atau langkah. Fase-fase dan perilaku tersebut merupakan tindakan berpola. Pola ini diciptakan agar hasil pembelajaran dengan pengembangan pembelajaran berbasis masalah dapat diwujudkan. Sintaks PBL adalah sebagai berikut :
Fase-fase Perilaku pendidik
Fase 1 : memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada peserta didik. Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran, mendeskripsikan berbagai kebutuhan logistik penting dan memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah.
Fase 2 : mengorganisasikan peserta didik untuk meneliti Pendidik membantu peserta didik mendefinisikan dan mengoragnisasikan tugas-tugas belajar terkait dengan permasalahannya.
Fase 3 : membantu investigasi mandiri dan kelompok Pendidik mendorong peserta didik untuk mendapatkan informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen, dan mencari penjelasan dan solusi.
Fase 4 : mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit Pendidik membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan artefak-artefak yang tepat, seperti laporan, rekaman video, dan model-model serta membantu mereka untuk menyampaikannya kepada orang lain.
Fase 5 : menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah Pendidik membantu peserta didik melakukan refleksi terhadap investigasinya dan proses-proses yang mereka gunakan.
David Johnson and Johnson mengemukakan 5 langkah strategi PBL melalui kegiatan kelompok :
1. Mendefinisikan masalah, yaitu merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang mengandung isu konflik, hingga siswa menjadi jelas masalah apa yang akan dikaji. Dalam kegiatan ini guru bisa meminta pendapat dan penjelasan siswa tentang isu-isu hangat yang menarik untuk dipecahkan.
2. Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah, serta menganalisis berbagai faktor baik faktor yang bisa menghambat maupun faktor yang dapat mendukung dalam penyelesaian masalah. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam diskusi kelompok kecil, hingga akhirnya peserta didik dapat mengurutkan tindakan-tindakan prioritas yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis penghambat yang diperkirakan.
3. Merumuskan alternatif strategi, yaitu menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas. Pada tahapan ini setiap siswa didorong untuk berpikir mengemukakan pendapat dan argumentasi tentang kemungkinan setiap tindakan yang dapat dilakukan.
4. Menentukan dan menerapkan strategi pilihan, yaitu pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dapat dilakukan.
5. Melakukan evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil. Evaluasi proses adalah evaluasi terhadap seluruh proses pelaksanaan kegiatan, evaluasi hasil adalah evaluasi terhadap akibat dari penerapan strategi yang diterapkan.(Wina Sanjaya, 2008 : 217-218)
Menurut John Dewey, penyelesaian masalah dilakukan melalui 6 tahap :
Tahap-tahap Kemampuan yang diperlukan
Merumuskan masalah Mengetahui dan merumuskan masalah secara jelas
Menelaah masalah Menggunakan pengetahuan untuk memperinci, menganalisis masalah dari beberapa sudut.
Merumuskan hipotesis Berimajinasi dan menghayati ruang lingkup, sebab akibat, dan alternatif penyelesaian.
Mengumpulkan dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis Kecakapan mencari dan menyusun data. Menyajikan data dalam bentuk diagram, gambar, dan table.
Pembuktian hipotesis Kecakapan menelaah dan membahas data. Kecakapan menghubung-hubungkan dan menghitung, ketrampilan mengambil keputusan dan kesimpulan.
Menentukan pilihan penyelesaian Kecakapan membuat alternative penyelesaian
Kecakapan menilai pilihan dengan memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap pilihan.
Berdasarkan pendapat dari ketiga tokoh tersebut, maka dapat di simpulkan bahwa sintaks strategi pembelajaran berbasis masalah terdiri dari memberikan orientasi permasalahan kepada peserta didik, mendiagnosis masalah, pendidik membimbing proses pengumpulan data individu maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil.
Strategi pembelajaran berbasis masalah dapat diterapkan melalui kegiatan individu, tidak hanya melalui kegiatan kelompok. Penerapan ini tergantung pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan materi yang akan diajarkan. Apabila materi yang akan diajarkan dirasa membutuhkan pemikiran yang dalam, maka sebaiknya pembelajaran dilakukan melalui kegiatan kelompok, begitupula sebaliknya.
BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Terdapat 3 ciri utama PBL, yaitu :
1. PBL merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi PBL ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. PBL tidak mengharapkan siswa hanya sekedar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui PBL siswa aktif berfikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan.
2. Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. PBL menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya tanpa masalah maka tidak mungkin ada proses pembelajaran.
3. Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berfikir secara ilmiah.
B. Saran
Melihat pada konteks perbaikan kualitas pendidikan, Maka PBL merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk memperbaiki system pembelajaran. Diharapkan setiap dosen menguasai metode problem based learning ini.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin Martoenoes. 2006. Startegi Dan Model Belajar Mengajar. Makassar : Badan Penerbit UNM Makassar.
Handout Mikroteaching.2011. Problem Based Learning.
(http://smacepiring.wordpress.com/)
http://www.diariztym.co.cc/2011/01
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penerapan KBK merupakan terobosan baru dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Rumusan kompetensi dalam KBK merupakan pernyataan apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan kelas yang sekaligus menggambarkan kemajuan yang dicapai siswa secara bertahap dan berkelanjutan untuk mencapai kompeten. Penerapan KBK memberikan sumbangan perubahan yang besar dalam kegiatan belajar mengajar yang membuat gagasan-gagasan pokok tentang pembelajaran agar tidak mekanistik.
Secara alami manusia selalu menghadapi masalah dalam kehidupannya yang harus diselesaikan. Karena itu selayaknyalah jika manusia termasuk siswa pada khususnya perlu berlatih menyelesaikan masalah. Pendidikan tidak hanya mengajarkan fakta dan konsep tetapi juga harus membekali peserta didik untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan ini. Dengan kondisi dan situasi yang demikian ini, pembelajaran yang semestinya disusun ialah berdasarkan masalah. Perubahan cara pandang terhadap siswa sebagai objek menjadi subjek dalam proses pembelajaran menjadi titik tolak banyak ditemukannya berbagai pendekatan pembelajaran yang inovatif. Guru dituntut dapat memilih model pembelajaran yang dapat memacu semangat setiap siswa untuk secara aktif ikut terlibat dalam pengalaman belajarnya. Salah satu alternative model pembelajaran yang memungkinkan dikembangkannya ketrampilan berpikir siswa (penalaran, komunikasi, dan koneksi) dalam memecahkan masalah adalah Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)
Menurut Tan (2003) Pembelajaran berbasis masalah merupakan inovasi dalam pembelajaran karena dalam PBM kemampuan atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan berpikirnya secara seimbang. Karena pada dasarnya, berpikir terjadi dalam konteks memecahkan masalah, yaitu adanya kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan apa yang ada. Seseorang menjadi tertarik atau berminat mengerjakan sesuatu apabila berada dalam ruang lingkup atau berkaitan dengan masalah yang dihadapinya.
Demikian pula dengan belajar, Pada saat mempelajari bahan pelajaran, siswa ingin segera mengetahui apa sebenarnya manfaat mempelajarinya, dan masalah apa sajakah yang dapat dipecahkan dengan pengetahuan atau bahan itu. Suatu kompetensi paling efektif dicapai oleh pelajar melalui serangkaian pengalaman pemecahan masalah realistik yang di dalamnya si pelajar secara langsung menerapkan unsur-unsur kompetensi tersebut.
Dilihat dari aspek psikologi belajar pembelajaran berbasis masalah bersandarkan kepada psikologi kognitif yang berangkat dari asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Belajar bukan semata-mata proses menghafal sejumlah fakta, tetapi suatu proses interaksi secara sadar antara individu dengan lingkungannya. Melalui proses ini sedikit demi sedikit siswa akan berkembang secara utuh. Artinya, perkembangan siswa tidak hanya terjadi pada aspek kognitif tetapi juga aspek afektif dan psikomotor melalui pengahayatan secara internal akan problema yang dihadapi.
Dilihat dari aspek filosofis tentang fungsi sekolah sebagai arena atau wadah untuk mempersiapkan anak didik agar dapat hidup di masyarakat, maka pembelajaran berbasis masalah merupakan strategi yang memungkinkan dan sangat penting untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan pada kenyataannya setiap manusia akan selalu dihadapkan dengan masalah.
Dilihat dari konteks perbaikan kualitas pendidikan, maka pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk memperbaiki system pembelajaran. Namun, pada kenyataannya tidak semua guru memahami konsep PBM tersebut, baik disebabkan oleh kurangnya keinginan dan motivasi untuk meningkatkan kualitas keilmuan tenaga pendidik.
Begitu juga dengan siswa selama ini kemampuan siswa untuk dapat menyelesaikan masalah kurang diperhatikan oleh setiap guru. Akibatnya, manakala siswa menghadapi masalah walaupun masalah itu dianggap itu sepeple, banyak siswa yang tidak dapat menyelesaikannya dengan baik. Tidak sedikit siswa yang mengambil jalan pintas, misalnya dengan mengkonsumsi obat-obatan terlarang atau bahkan bunuh diri hanya gara-gara ia tidak sanggup memecahkan masalah.
B. Masalah
1. Bagaimanakah cara penerapan metode Problem Based Learning?
2. Apakah pengertian Problem Based Learning?
3. Bagaimana Langkah-langkah Problem Based Learning?
4. Apa saj kelemahan dan kelebihan metode Problem Based Learning?
BAB II
PEMBAHASAN
A. PROBLEM BASED LEARNING (PBL)
1. Pengertian
Adalah belajar dengan memanfaatkan masalah dan mahasiswa harus melakukan pencarian atau penggalian informasi (inquiry) untuk memecahkan masalah tersebut
Problem based Learning atau Pembelajaran berbasis masalah dapat diartikan juga sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah..
2. Tujuan
a. Membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa.
b. Membantu siswa mengembangkan kemampuan berfikir, pemecahan masalah dan ketrampilan intelektual, belajar tentang berbagai peran orang dewasa melalui perlibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi, dan menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri.
3. Ciri-ciri PBL
a. Belajar dimulai dengan suatu masalah.
b. Memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata
c. Mengorganisasikan pelajaran di seputar masalah
d. Memberikan tanggung jawab yang besar kepada pembelajar
e. Menggunakan kelompok kecil
f. Menuntut siswa untuk mendemontrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja
Menurut Wina Sanjaya dalam bukunya Strategi Pembelajaran Berorientasi standar proses pendidikan, menyebutkan bahwa dalam PBL/ pembelajaran berbasis masalah ini mempunyai 3 ciri utama, yaitu
a. PBL merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. PBL tidak mengharapkan siswa yang hanya sekedar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafasl metri pelajaran, akan tetapi melalui PBL siswa aktif berfikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan.
b. Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. PBL Menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran, Artinya tanpa masalah maka tidak mungkin ada proses pembelajaran.
c. Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berfikir deduktif dan induktif.
4. Strategi
Strategi pembelajaran dengan pemecahan masalah dapat diterapkan :
a. Manakala guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar dapat mengingat materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh
b. Apabila guru bermaksud untuk mengembangkan keterampilan berpikir rasional siswa, yaitu kemampuan menganalisis situasi, menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dalam situasi baru, mengenal adanya perbedaan antara fakta dan pendapat, serta mengembangkan kemmapuan dalam membuat judgment secara objektif
c. Manakala guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah serta membuat tantangan intelektual siswa
d. Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajarnya
e. Jika guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupannya (hubungan antara teori dengan kenyataan)
5. Hakikat Masalah Dalam PBL
Pbl dan strategi pembelajaran inkuiri (SPI) memiliki perbedaan, perbedaan tersebut terletak pada jenis masalah serta tujuan yang ingin dicapai. Masalah dalam SPI adalah masalah yang bersifat tertutup, artinya jawaban dari masalah itu sudah pasti, oleh sebab itu jawaban dari masalah yang dikaji itu sebenarnya guru sudah mengetahui dan memahaminya, namun guru tidak secara langsung menyampaikannya kepada siswa. Dalam SPI tugas guru pada dasarnya menggiring siswa melalui proses Tanya jawab pada jawaban yang sebenarnya sudah pasti. Tujuan yang ingin dicapai oleh SPI adalah menumbuhkan keyakinan dalam diri siswa tentang jawaban dari suatu masalah.
Berbeda dengan SPI, masalah dalam PBL adalah masalah yang bersifat terbuka. Artinya jawaban dari masalah tersebut belum pasti. Setiap siswa, bahkan guru dapat mengembangkan kemungkinan jawaban. Dengan demikian, PBL memberikan kesempatan pada siswa untuk bereksplorasi mengumpulkan dan menganalisis data secara lengkap untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Yujuan yang ingin dicapai adalah kemampuan siswa untuk berpikir kritis, analitis, sistematis dan logis untuk menemukan alternative pemecahan masalah melalui eksplorasi data secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah.
Kriteria pemilihan bahan pelajaran dalam PBL :
a. Bahan pelajaran harus mengundang isu-isu yang mengandung konflik yang bisa bersumber dari berita, rekaman video dan yang lainnya
b. Bahan yang dipilih adalah bahan yang bersifat familier dengan siswa, sehingga setiap siswa dapat mengikutinya dengan baik
c. Bahan yang dipilih merupakan bahan yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak (universal), sehingga terasa manfaatnya
d. Bahan yang dipilih merupakan bahan yang mendukung tujuan atau kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku
e. Bahan yang dipilih sesuai dengan minat siswa sehingga setiap siswa merasa perlu untuk mempelajarinya.
6. Tahapan PBL
Menurut Jarot Subandono, inti dari kegiatan metode belajar Problem Based Learning ini ada pada diskusi tutorial. Terdapat tujuh langkah yang harus dilakukan dalam diskusi tutorial, yang disebut dengan Seven Jumps. Deskripsi dari ketujus langkah tersebut adalah sebagai berikut :
Langkah 1.
Menjelaskan istilah yang belum diketahui
• Proses : Mahasiswa menentukan beberapa kata yang artinya kurang/belum jelas, anggota kelompok yang lain mungkin dapat memberikan definisinya/penjelasannya. Mahasiswa sebaiknya dikondisikan agar merasa “aman/safe” dalam berpendapat sehingga memungkinkan mereka “jujur” tentang segala hal yang belum dipahaminya.
• Alasan : istilah yang belum diketahui berlaku sebagai suatu “penghambat” untuk dipahami. Penjelasan yang hanya sebagian saja dipahami/tidak menyeluruh sekalipun, dapat untuk memulai proses pembelajaran
• Hasil : Kata-kata /istilah yang artinya belum dapat disetujui oleh kelompok, harus didaftar sebagai tujuan pembelajaran.
• Perhatian: Mahasiswa kadang-kadang terjebak terlalu lama diskusi pada langkah 1 ini sehingga waktunya hampir habis dan mengalami fenomena mengibarkan bendera, maka sebaiknya istilah asing dijelaskan secukupnya saja.
Langkah (2).
Menetapkan permasalahan
• Proses : Tahap ini merupakan suatu pembahasan terbuka dimana mahasiswa didorong agar menyumbangkan pendapatnya tentang permasalahan yang ada dalam bentuk diskusi. Tutor harus mendorong/memotivasi mereka semua untuk menyumbangkan analisis secara cepat dan luas.
• Alasan : Dimungkinkan bagi setiap anggota kelompok tutorial untuk mempunyai pandangan yang berbeda terhadap suatu masalah. Membandingkan dan mengumpulkan pendapat yang luas akan memperkaya khasanah intelektual dari permasalahan yang dibahas tersebut
• Hasil : Daftar pokok-pokok persoalan untuk dijelaskan.
Langkah (3).
Curah pendapat/brainstorming tentang hipotesis atau penjelasan yang ada.
• Proses : Merupakan kelanjutan dari pembahasan secara terbuka, namun sekarang mahasiswa mencoba untuk merumuskan, menguji dan membandingkan keunggulan secara relatif dari hipotesis yang ada sebagai penjelasan permasalahan atau kasus. Tutor perlu untuk mempertahankan diskusi pada taraf hipotesis dan tidak dianjurkan menuju pada hal-hal yang terlalu detil/terperinci secara cepat. Dalam hal ini:
a. Hipotesis berarti suatu pengandaian yang dibuat sebagai dasar untuk membuat alasan tentang kebenaran ilmiah atau sebagai titik awal bagi penyelidikan lebih lanjut.
b. Penjelasan artinya, menjadikan tahu secara terperinci dan membuatnya dapat dimengerti, dengan suatu maksud untuk menimbulkan saling pengertian.
• Alasan : Tahap ini merupakan langkah yang penting, yang mendorong digunakannya pembelajaran dari tahap sebelumnya berdasarkan pengetahuan atau ingatan/memori sebelumnya (prior knowledge) dan membiarkan mahasiswa untuk menguji pemahaman yang telah dimilikinya satu sama lain. Hubungan/ mata rantai dapat terbentuk antara pokok-pokok persoalan dari pengetahuan yang belum lengkap yang ada dalam kelompok tersebut. Jika dapat ditangani dengan baik oleh tutor dan grupnya, tahap ini dapat menempatkan pembelajaran pada tingkat pemahaman yang lebih baik.
• Hasil : Daftar hipotesis atau penjelasan.
• Masalah : prior knowledge mahasiswa sering diragukan tutor.
Langkah (4).
Menyusun penjelasan dalam suatu pemecahan masalah/ solusi sementara.
• Proses : Mahasiswa akan memikirkan sebanyak mungkin penjelasan yang berbeda dari apa yang sedang terjadi. Permasalahan diperiksa dengan teliti secara terperinci dan dibandingkan dengan usulan hipotesis atau penjelasan, untuk melihat bagaimana mereka akan mencocokkan dan jika diperlukan eksplorasi lebih lanjut. Tahap ini merupakan permulaan proses dari penjelasan tujuan pembelajaran/Learning Objective (LO), walaupun tidak dianjurkan bagi mahasiswa untuk merekam dengan segera dalam bentuk tulisan.
• Alasan : Tahap ini memproses secara aktif dan menstruktur kembali pengetahuan yang ada dan mengenali kesenjangan pemahaman. Mencatat tujuan pembelajaran (LO) secara cepat akan menghalangi/menghambat pemikiran dan memperpendek proses berpikir intelektual dan menghasilkan tujuan yang terlalu luas dan superfisial.
• Hasil : tahap ini meliputi pengorganisasian penjelasan tentang permasalahan, menunjukkannya secara skematis, mencoba untuk menghubungkan ide-ide baru diantara sesama teman, dengan pengetahuan yang dimiliki dan dengan susunan kata-kata/konteks yang berbeda. Proses ini menyediakan suatu hasil visual tentang hubungan antara bagian-bagian informasi yang berbeda dan memfasilitasi ”penyimpanan ” informasi dalam ingatan jangka panjang.
Langkah (5).
Menjelaskan Tujuan Pembelajaran (LO)
• Proses : Kelompok menyetujui tujuan pembelajaran yang akan dipelajari oleh semua mahasiswa. Tutor mendorong mereka agar dapat fokus, untuk tidak terlalu luas atau superfisial dan dapat tercapai dalam waktu yang tersedia. Beberapa mahasiswa mungkin mempunyai tujuan pembelajaran (LO) yang tidak dibagikan kepada seluruh anggota kelompok oleh karena kebutuhan dan ketertarikan secara individual/pribadi.
• Alasan : Proses membentuk kesepakatan menggunakan kemampuan segenap kelompok tutorial (termasuk tutor) untuk menyusun diskusi selanjutnya dalam tujuan pembelajaran yang tepat/cocok dan dapat dicapai. Dalam hal ini tidak hanya menjelaskan tujuan pembelajaran namun juga membawa kelompok secara bersama-sama dan menyimpulkan diskusi.
• Hasil : Tujuan Pembelajaran, hal ini merupakan hasil utama dari pekerjaan awal kelompok dalam PBL. Tujuan Pembelajaran seharusnya/ disarankan dalam bentuk persoalan pokok/isu yang ditujukan terhadap pertanyaan atau hipotesis yang spesifik.
Langkah (6).
Pengumpulan Informasi dan belajar mandiri
• Proses : Tahap ini meliputi pencarian bahan dalam buku teks, mengumpulkan hasil pencarian literatur elektronik dari Internet, konsultasi pakar atau hal-hal lainnya yang dapat membantu menyediakan informasi yang sedang dicari oleh mahasiswa. Suatu proses PBL yang diorganisasikan dengan baik akan mencakup penyelenggaraan kursus atau adanya buku panduan blok yang menyediakan saran-saran dalam bagaimana caranya memperoleh sumber-sumber pembelajaran spesifik yang mungkin sukar untuk didapatkan/diakses, supaya jangan terjadi fenomena CBSA seperti di tingkat SMU.
• Alasan : Secara jelas, suatu bagian penting dari proses pembelajaran dalam pengumpulan dan perolehan informasi baru, dimana mahasiswa mengerjakannya secara individual maupun bersama-sama.
• Hasil : Catatan individual dan kelompok mahasiswa
Langkah (7).
Membagi/ Berbagi hasil pengumpulan informasi dan belajar mandiri
• Proses : Hal ini membutuhkan waktu beberapa hari (sekitar 3 hari) setelah pertemuan tahap I (langkah 1-5). Mahasiswa mulai kembali pada daftar tujuan pembelajaran. Pertama-tama mereka mengidentifikasi/mengenali sumber belajar yang didapatnya sendiri, mengumpulkan informasi yang mereka dapat dari belajar mandiri dan membantu teman-teman lainnya memahami dan mengenali hal-hal yang susah selanjutnya/kemudian, untuk dipelajari lebih lanjut atau dengan bantuan pakar. Mahasiswa mencoba untuk melakukan dan menghasilkan analisis yang menyeluruh dari permasalahan yang ada.
• Alasan : Pada tahap ini menyusun apa yang telah dikerjakan kelompok, menggabungkan pembelajaran dan mengenali daerah/area yang belum pasti, yang memungkinkan untuk pembelajaran lebih lanjut. Pembelajaran mungkin tidak berakhir secara menyeluruh dan berakhir secara terbuka, Namur hal ini sungguh/ memang diperlukan kehati-hatian/ tidak terburu-buru karena mahasiswa seharusnya kembali ke topik-topik pembicaraan tersebut ketika pencetus/trigger yang cocok muncul kembali di kemudian hari.
• Hasil : Catatan individual mahasiswa / laporan
7. Keunggulan dan Kelemahan PBL
a. Keunggulan
1) Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran
2) Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa
3) Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa
4) Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembanhkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Di samping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses
5) Melalui pemecahan masalah bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran merupakan cara berpikir dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.
6) Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa
7) Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru
8) Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata
9) Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir
b. Kelemahan
1) Jika siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba
2) Keberhasilan strategi pembelajarn melalui problem based learning membutuhkan cukup waktu untuk persiapan
3) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari
B. PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL)
Ada beberapa cara menerapkan PBL (Problem Based Learning) dalam pembelajaran. Secara umum penerapan model ini dimulai dengan adanya masalah yang harus dipecahkan oleh peserta didik. Masalah tersebut dapat berasal dari peserta didik atau dari pendidik. Peserta didik akan memusatkan pembelajaran di sekitar masalah tersebut, dengan arti lain, peserta didik belajar teori dan metode ilmiah agar dapat memecahkan masalah yang menjadi pusat perhatiannya. Pemecahan masalah dalam PBL harus sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah. Dengan demikian peserta didik belajar memecahkan masalah secara sistematis dan terencana.
Menurut Agus dalam buku cooperative learning, strategi pembelajaran berbasis masalah terdiri dari 5 fase atau langkah. Fase-fase dan perilaku tersebut merupakan tindakan berpola. Pola ini diciptakan agar hasil pembelajaran dengan pengembangan pembelajaran berbasis masalah dapat diwujudkan. Sintaks PBL adalah sebagai berikut :
Fase-fase Perilaku pendidik
Fase 1 : memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada peserta didik. Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran, mendeskripsikan berbagai kebutuhan logistik penting dan memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah.
Fase 2 : mengorganisasikan peserta didik untuk meneliti Pendidik membantu peserta didik mendefinisikan dan mengoragnisasikan tugas-tugas belajar terkait dengan permasalahannya.
Fase 3 : membantu investigasi mandiri dan kelompok Pendidik mendorong peserta didik untuk mendapatkan informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen, dan mencari penjelasan dan solusi.
Fase 4 : mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit Pendidik membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan artefak-artefak yang tepat, seperti laporan, rekaman video, dan model-model serta membantu mereka untuk menyampaikannya kepada orang lain.
Fase 5 : menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah Pendidik membantu peserta didik melakukan refleksi terhadap investigasinya dan proses-proses yang mereka gunakan.
David Johnson and Johnson mengemukakan 5 langkah strategi PBL melalui kegiatan kelompok :
1. Mendefinisikan masalah, yaitu merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang mengandung isu konflik, hingga siswa menjadi jelas masalah apa yang akan dikaji. Dalam kegiatan ini guru bisa meminta pendapat dan penjelasan siswa tentang isu-isu hangat yang menarik untuk dipecahkan.
2. Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah, serta menganalisis berbagai faktor baik faktor yang bisa menghambat maupun faktor yang dapat mendukung dalam penyelesaian masalah. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam diskusi kelompok kecil, hingga akhirnya peserta didik dapat mengurutkan tindakan-tindakan prioritas yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis penghambat yang diperkirakan.
3. Merumuskan alternatif strategi, yaitu menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas. Pada tahapan ini setiap siswa didorong untuk berpikir mengemukakan pendapat dan argumentasi tentang kemungkinan setiap tindakan yang dapat dilakukan.
4. Menentukan dan menerapkan strategi pilihan, yaitu pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dapat dilakukan.
5. Melakukan evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil. Evaluasi proses adalah evaluasi terhadap seluruh proses pelaksanaan kegiatan, evaluasi hasil adalah evaluasi terhadap akibat dari penerapan strategi yang diterapkan.(Wina Sanjaya, 2008 : 217-218)
Menurut John Dewey, penyelesaian masalah dilakukan melalui 6 tahap :
Tahap-tahap Kemampuan yang diperlukan
Merumuskan masalah Mengetahui dan merumuskan masalah secara jelas
Menelaah masalah Menggunakan pengetahuan untuk memperinci, menganalisis masalah dari beberapa sudut.
Merumuskan hipotesis Berimajinasi dan menghayati ruang lingkup, sebab akibat, dan alternatif penyelesaian.
Mengumpulkan dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis Kecakapan mencari dan menyusun data. Menyajikan data dalam bentuk diagram, gambar, dan table.
Pembuktian hipotesis Kecakapan menelaah dan membahas data. Kecakapan menghubung-hubungkan dan menghitung, ketrampilan mengambil keputusan dan kesimpulan.
Menentukan pilihan penyelesaian Kecakapan membuat alternative penyelesaian
Kecakapan menilai pilihan dengan memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap pilihan.
Berdasarkan pendapat dari ketiga tokoh tersebut, maka dapat di simpulkan bahwa sintaks strategi pembelajaran berbasis masalah terdiri dari memberikan orientasi permasalahan kepada peserta didik, mendiagnosis masalah, pendidik membimbing proses pengumpulan data individu maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil.
Strategi pembelajaran berbasis masalah dapat diterapkan melalui kegiatan individu, tidak hanya melalui kegiatan kelompok. Penerapan ini tergantung pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan materi yang akan diajarkan. Apabila materi yang akan diajarkan dirasa membutuhkan pemikiran yang dalam, maka sebaiknya pembelajaran dilakukan melalui kegiatan kelompok, begitupula sebaliknya.
BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Terdapat 3 ciri utama PBL, yaitu :
1. PBL merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi PBL ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. PBL tidak mengharapkan siswa hanya sekedar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui PBL siswa aktif berfikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan.
2. Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. PBL menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya tanpa masalah maka tidak mungkin ada proses pembelajaran.
3. Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berfikir secara ilmiah.
B. Saran
Melihat pada konteks perbaikan kualitas pendidikan, Maka PBL merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk memperbaiki system pembelajaran. Diharapkan setiap dosen menguasai metode problem based learning ini.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin Martoenoes. 2006. Startegi Dan Model Belajar Mengajar. Makassar : Badan Penerbit UNM Makassar.
Handout Mikroteaching.2011. Problem Based Learning.
(http://smacepiring.wordpress.com/)
http://www.diariztym.co.cc/2011/01
teori Hull tentang belajar
Hull menyatakan bahwa stimulus (S) mempengaruhi organisme (O) dan menghasilakan respon (R) itu tergantung pada karakteristik O dan S. Teori Hull ini disebut teori mengurangi dorongan (drive reduction theory) dan reinforcement merupakan faktor utama yang menentukan belajar.
Kerangka teori Hull berisi postulat-postulat sebagai berikut:
1) Organismememiliki sebuah hierarki kebutuhan yang muncul karena adanya stimulation atau dorongan.
2) Kebiasaan yang kuat meningkatkan aktivitas yang diasosiasikan dengan reinforcement primer maupun sekunder.
3) Stimulus diasosiasikan dengan penghentian sebuah respon menjadi penghalang yang dikondisikan.
4) Lebih efektif reaksi potensi melampui reaksi maksimal, lebih pendeknya terjadi penundaan respon (latency respons)
Berdasarkan postulat tersebut, Hull menyatakan berbagai tipe variabel macam tipe variabel seperti generalisasi, motivasi, dan variabilitas dalam belajar.
Drive reduction theory memilki beberapa prinsip, yaitu:
1) Dorongan merupakan hal yang terpenting agar terjadi respons (siswa harus memiliki keinginan untuk belajar)
2) Stimulus dan respon harus dapat diketahui oleh organisme agar pembisaan dapat terjadi (siswa harus mempunyai perhatian)
3) Respon harus dibuat agar terjadi pembiasaan (siswa harus aktif)
4) Pembiasaan hanya terjadi jika reinforcement dapat memenuhi kebutuhan (belajar harus dapat memenuhi keinginan siswa.
Kerangka teori Hull berisi postulat-postulat sebagai berikut:
1) Organismememiliki sebuah hierarki kebutuhan yang muncul karena adanya stimulation atau dorongan.
2) Kebiasaan yang kuat meningkatkan aktivitas yang diasosiasikan dengan reinforcement primer maupun sekunder.
3) Stimulus diasosiasikan dengan penghentian sebuah respon menjadi penghalang yang dikondisikan.
4) Lebih efektif reaksi potensi melampui reaksi maksimal, lebih pendeknya terjadi penundaan respon (latency respons)
Berdasarkan postulat tersebut, Hull menyatakan berbagai tipe variabel macam tipe variabel seperti generalisasi, motivasi, dan variabilitas dalam belajar.
Drive reduction theory memilki beberapa prinsip, yaitu:
1) Dorongan merupakan hal yang terpenting agar terjadi respons (siswa harus memiliki keinginan untuk belajar)
2) Stimulus dan respon harus dapat diketahui oleh organisme agar pembisaan dapat terjadi (siswa harus mempunyai perhatian)
3) Respon harus dibuat agar terjadi pembiasaan (siswa harus aktif)
4) Pembiasaan hanya terjadi jika reinforcement dapat memenuhi kebutuhan (belajar harus dapat memenuhi keinginan siswa.
CERPEN: Ayah No. 1
Hingar bingar Kota Kendarai begitu semarak, degan panorama alam yang indah di hiasai dengan lampu bagai sang dewi malam. Lampu-lampu listrik yang terang di sekeliling jalan maupun di rumah -rumah jelejah, dinding papan, tembok yang kokoh bertingkat-tingkat dengan berbagai model yang di rancang oleh arsitektur, yang menggoda dan menarik atau menggungah hati untuk memiliki dan memandangnya. Ruko-ruko berjajaran di pinggir-pinggir jalan dengan macam-macam style barang-barang yang di pajang untuk di jual .
Banyak orang yang sibuk, anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua maupun kalangan pengusah, pegawai dengan aktifitasnya mereka masing – masing. Akh …. Aku tak mampu untuk melukiskannya satu persatu. Aku mahasiswa yang sibuk dengan kegiatan kampusku, bercanda tawa dengan teman-teman kelompok belajar, olah raga ikut tarbiyah dan lain sebagainya ….tapi hati ini terasa …. Bukan terasa sunyi atau hening…!! Terasa ada yang kurang di sisiku dalam kehidupanku. Seperti malam ini, aku hanya bisa duduk termenung, membisu, menatap meja belajar. Kertas berhamburan di sembarang tempat seakan mengatakan, bahwa tugas belum selesai , hanya aku tak mengerti akan hal itu. Pikiran yang kosong melang jauh, jauh... sekali terasa mendaki gunung , melewati bukit-bukit , untuk terbang ke suatu tempat yang tidak asing lagi bagiku. Tapi brbeda jauh dengan Kendari, rumah tidak berjejeran rapat dan tampak semrawut. Tiang pala g pagar berserakan, berjejeran di halaman rumah dengan daun-daunan yang jatuh dari tangkainya. Siang terasa panas sekali karena pengaruh angin laut yang berhembus ke daratan dan tak adanya pepohonan di depan rumah. Dalam suasana dan musim panas ini masih ada juga anak anak sekolah SD dan SMP mereka berjalan kaki dangan jarak rumah mereka sekitar 5 km dengan sekolah, tapi dengan semangatnya mereka untuk menuntut ilmu untuk menggapai masa depannya masing – masing mereka tidak menghiraukan panasnya matahari di siang hari.
Sore hari tampak lengang, hanya terdapat beberapa orang anak. Mereka bermain bola di bawah pohon kelapa .Begitu juga sekelompok remaja bercanda sambil bermain volly. Dan ada beberapa orang tua membentuk kelompok untuk bermain domino. Menjelang pentang anak-anak membubarkan diri pulang kerumah masing-masing. Saat itu tidak terdengar azan mangrib, malam terasa mencekam begitu hening, senyap, kososng ….!! hanya kicauan burung-burung hantu yang saling bersahut-sahutan.
“Den...Den…Deden…. bangun…! Sudah siang , teman-temammu sudah pada pergi ke sekolah.’’ teriak seorang lelaki yang begitu keras hingga mengagetkan tetangganya. Seorang anak bernama Deden bangun dari tempat tidurnya karena terkejut dengan suara keras leleki tadi.
‘’Uuuuaaaa….hhh” Dia menguap sambil mengucek-ngucek matanya ,tangan yang satu menjinjing sarung yang tak mau ditinggalkannya. Sambil berdiri menatap jam dinding yang ada di ruangan tamu .
”Pak, baru setengah lima ini.’’ Kata Deden pada lelaki itu yang ternyata Bapaknya.
‘’Memang masing setengah lima, kau pergi mi timba air, jangan lihat-lihat jam lagi nanti airnya putus lagi? tidak mengalir lagi nah…! Bukan kamu saja yang mau timba air banyak orang yang timba air, kalau sudah siang pasti banyak yang antri timba air’’ kata bapaknya dengan nada agak kesal.
Deden terkenal anak penurut, pemuda tidak banyak membantah. Hanya hatilah yang mengerutu. Merasa dia anak tidak dikasihi oleh orang tuanya.Llihat saja nah tetangga jam sekarang belum bangun, malah mereka masih ngorok semua. Deden hanya bisa pasrah pada keadaan, tidak mau membatah orang tua. Katanya guru disekolah, dosa itu masuk neraka. Deden juga adalah anak yang rajin sholat, itupun hasil dari dididikan keras ayahnya. Hal ini terbukti walaupun bangun sudah kesiangan dia tetap melaksanakan sholat subuh karena untuk membiasakan dirinya. Semua orang yang berpegang teguh pada sholat selalu berhasil, kata ayahnyaseraya menyebutkan orang-orang di kampong yang dianggapnya berhasil walaupun sang ayah sendiri bolong-bolong sholatnya. Maklumlah , pergi ke kebun pagi hari pulangnya …. Yahhh… sudah malam .
Matahari sudah terbit di ufuk timur menanadakan semua aktivitas akan mulai di laksanakan. Deden berangkat kesekolah bersama adi knya. Sang ibu sibuk di dapur sambil mengurus adik kecil. Ayah jam 5 subuh sudah berangkat kekebun karena khawatir tanaman jagung muda akan di makan monyet .
Deden merupakan murid yang berprestasi dari kelas 1 sampai kelas 6 SD dia selalu meraih rangking 1 dan lulus dengan nilai sangat terbaik. Tapi mengapa setiap kesalahan sedikit dia selalu di marahi habis –habisan oleh ayahnya , seperti turun nilainya sedikit. Boleh dibilang dia tiap hari selalu di marahi. Kan tiap sore, dia selalu main bola, pulangnya sudah jam 6 petang. Saat itu juga dia kena marah- marah, karena sang ayah pun baru pulang dari kebun. Walaupun setiap selesai marah sang ayah selalu membubuhinya dengan nasihat , tetapi saja hati Deden merasa tidak enak.
Meskipun sering dimarahi orang tuanya , Deden tetap saja menurut sama ayahnya. Setiap hari libur dan sepulang dari sekolah , dia ke kebun menjaga tanaman jagung membantu ayahnya karena sang ayah sering ke kota menjual jagung muda dan mengojek. Hari -harinya selalu di jalani dengan hati yang senang dan gembira ,ndengan ditemani dengan radio kecil yang sering di bawanya ke kebun sebagai satu-satunya sumber informasi yang dimilikinya. Radio itu di beli dengan uangnya sendiri. Lulus dari SM , lag-lagi Deden merupakan lulusan terbaik. Setelah lulus di dari SMP dia pun ingin sekali lanjut sekolah SMA di kota. Tapi sanyangnya sang ayah tidak mau menyekolahkan anak nya SMA di Kota karena di kampung sudah ada sekolah baru di buka dan berstatus kelas jauh. Alasan si ayah menyekolahkan Deden di kampung karena sang ayah khawatir dengan kehidupan di Kota jangan sampai Deden terpengaruh dengan hal-hal yang tidak di inginkannya. Dasar si Deden anak penurut tidak dapat keputusan sang ayah dan keputusan semua itu ada di tangan ayahnya, karena menurut dia ayahlah yang menanggung semua biaya hidupnya. Pada saat SMA inilah Deden mulai malas-malasan sekolah karena guru-guru tidak ada perhatin dengan suasana di sekolah, mereka sibuk dengan kepentingannya masing-masing mereka jarang masuk mengajar kadang tiga kali seminggu, maklum saja namanya juga kelas jauh. Sepulang dari sekolah Deden mengadu dan mengeluh kepada ayahnya kalu satau begini tenaga gurunya malas-malasan lebih baik aku sekolah di Kota. Apa kata ayah ? sekolah disini sama saja dengan sekolah di Kota , tergantung kesungguhannya kita masing-masing. Hanya itu kata –kata yang keluar dari mulut sang ayah. Dasar anak pemalu hanya itu saja keluhan Deden terhadap ayahnya .
Namun dia tetap serius belajar demi menggapai semua cita-citanya . Alhasil Deden lulus dengan nilai pas-pasan. Dia sangat pusing saat itu, tidak mungkin ayahnya menyekolahkannya pada satu-satunya Universitas Negeri yang ada di propinsinya yang selama ini dia impi-impikan, karena dia tahu betul bagaimana kondisi keungan orang tuanya apalagi nilainya pas-pasan. Dengan agak ragu-ragu, Deden menyampaikkan hasil pengumuman ujian SMA pada sang ayah. Baru hari itu sang tidak memberikan respon sedikitpun. Ayah yang selama ini terkenal sangat keras didikannya hanya tertunduk kemudian manatap langit-langit rumah tertangkap oleh Deden di raut wajah sang ayah ada perasaa sedih saat itu.
Selesai makan malam, Deden dipanggil ayahnya ke ruang tamu. Sang ayah terdiam sejenak dan memulai pembicaraan;
‘’Den, di rumah ini kita tidak uang sepeserpun untuk membiayai kuliahmu, ...... tapi bapak dan ibu akan berusaha mencari pinjaman di Bank denganmenggadaikan sertifikat tanah kita, agar kamu bisa kuliah di Kendari dan bapak ingin kau seperti orang-orang yang bisa membanggakan kedua orang tuanya’’.
Deden tidak bisa ber komentar apa-apa, hanya jutaan bintang-bintang gembira yang ada di hati, tanpa terasa air matanya menetes pertanda bahagia. Hanya satu yang terpikirkan olehnya apa arti dari kekerasan sang ayah terhadapnya selama ini yang kini terganti dengan sesuatu yang menggembirakan....???
.......
Aku tersadarkan saat itu, ternyata aku sudah ketiduran di meja belajar.Waktu sudah menunjukkan jam 1 malam, aku lalu sholat malam saat itu, beribu do’a keluar dari hatiku untuk kedua orang tuaku yang membiayai kuliahku. Kata ma’af terukir dihatiku untuk sang ayah yang selama ini telah berburuk sangka padanya, semoga Tuhan mendengar dan mengabulkan semua do’aku. Hanya satu bisa kulakukan agar kuliah ini tidak putus di tengah jalan, saya selalu ingat pesan sang ayah bahwa kendala kuliah yang tidak bisa di tawar adalah....
Kalau dia seorang laki-laki maka kendalanya adalah .... perempuan.
Kalau dia seorang perempuan maka kendalanya adalah ... laki-laki.
Banyak orang yang sibuk, anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua maupun kalangan pengusah, pegawai dengan aktifitasnya mereka masing – masing. Akh …. Aku tak mampu untuk melukiskannya satu persatu. Aku mahasiswa yang sibuk dengan kegiatan kampusku, bercanda tawa dengan teman-teman kelompok belajar, olah raga ikut tarbiyah dan lain sebagainya ….tapi hati ini terasa …. Bukan terasa sunyi atau hening…!! Terasa ada yang kurang di sisiku dalam kehidupanku. Seperti malam ini, aku hanya bisa duduk termenung, membisu, menatap meja belajar. Kertas berhamburan di sembarang tempat seakan mengatakan, bahwa tugas belum selesai , hanya aku tak mengerti akan hal itu. Pikiran yang kosong melang jauh, jauh... sekali terasa mendaki gunung , melewati bukit-bukit , untuk terbang ke suatu tempat yang tidak asing lagi bagiku. Tapi brbeda jauh dengan Kendari, rumah tidak berjejeran rapat dan tampak semrawut. Tiang pala g pagar berserakan, berjejeran di halaman rumah dengan daun-daunan yang jatuh dari tangkainya. Siang terasa panas sekali karena pengaruh angin laut yang berhembus ke daratan dan tak adanya pepohonan di depan rumah. Dalam suasana dan musim panas ini masih ada juga anak anak sekolah SD dan SMP mereka berjalan kaki dangan jarak rumah mereka sekitar 5 km dengan sekolah, tapi dengan semangatnya mereka untuk menuntut ilmu untuk menggapai masa depannya masing – masing mereka tidak menghiraukan panasnya matahari di siang hari.
Sore hari tampak lengang, hanya terdapat beberapa orang anak. Mereka bermain bola di bawah pohon kelapa .Begitu juga sekelompok remaja bercanda sambil bermain volly. Dan ada beberapa orang tua membentuk kelompok untuk bermain domino. Menjelang pentang anak-anak membubarkan diri pulang kerumah masing-masing. Saat itu tidak terdengar azan mangrib, malam terasa mencekam begitu hening, senyap, kososng ….!! hanya kicauan burung-burung hantu yang saling bersahut-sahutan.
“Den...Den…Deden…. bangun…! Sudah siang , teman-temammu sudah pada pergi ke sekolah.’’ teriak seorang lelaki yang begitu keras hingga mengagetkan tetangganya. Seorang anak bernama Deden bangun dari tempat tidurnya karena terkejut dengan suara keras leleki tadi.
‘’Uuuuaaaa….hhh” Dia menguap sambil mengucek-ngucek matanya ,tangan yang satu menjinjing sarung yang tak mau ditinggalkannya. Sambil berdiri menatap jam dinding yang ada di ruangan tamu .
”Pak, baru setengah lima ini.’’ Kata Deden pada lelaki itu yang ternyata Bapaknya.
‘’Memang masing setengah lima, kau pergi mi timba air, jangan lihat-lihat jam lagi nanti airnya putus lagi? tidak mengalir lagi nah…! Bukan kamu saja yang mau timba air banyak orang yang timba air, kalau sudah siang pasti banyak yang antri timba air’’ kata bapaknya dengan nada agak kesal.
Deden terkenal anak penurut, pemuda tidak banyak membantah. Hanya hatilah yang mengerutu. Merasa dia anak tidak dikasihi oleh orang tuanya.Llihat saja nah tetangga jam sekarang belum bangun, malah mereka masih ngorok semua. Deden hanya bisa pasrah pada keadaan, tidak mau membatah orang tua. Katanya guru disekolah, dosa itu masuk neraka. Deden juga adalah anak yang rajin sholat, itupun hasil dari dididikan keras ayahnya. Hal ini terbukti walaupun bangun sudah kesiangan dia tetap melaksanakan sholat subuh karena untuk membiasakan dirinya. Semua orang yang berpegang teguh pada sholat selalu berhasil, kata ayahnyaseraya menyebutkan orang-orang di kampong yang dianggapnya berhasil walaupun sang ayah sendiri bolong-bolong sholatnya. Maklumlah , pergi ke kebun pagi hari pulangnya …. Yahhh… sudah malam .
Matahari sudah terbit di ufuk timur menanadakan semua aktivitas akan mulai di laksanakan. Deden berangkat kesekolah bersama adi knya. Sang ibu sibuk di dapur sambil mengurus adik kecil. Ayah jam 5 subuh sudah berangkat kekebun karena khawatir tanaman jagung muda akan di makan monyet .
Deden merupakan murid yang berprestasi dari kelas 1 sampai kelas 6 SD dia selalu meraih rangking 1 dan lulus dengan nilai sangat terbaik. Tapi mengapa setiap kesalahan sedikit dia selalu di marahi habis –habisan oleh ayahnya , seperti turun nilainya sedikit. Boleh dibilang dia tiap hari selalu di marahi. Kan tiap sore, dia selalu main bola, pulangnya sudah jam 6 petang. Saat itu juga dia kena marah- marah, karena sang ayah pun baru pulang dari kebun. Walaupun setiap selesai marah sang ayah selalu membubuhinya dengan nasihat , tetapi saja hati Deden merasa tidak enak.
Meskipun sering dimarahi orang tuanya , Deden tetap saja menurut sama ayahnya. Setiap hari libur dan sepulang dari sekolah , dia ke kebun menjaga tanaman jagung membantu ayahnya karena sang ayah sering ke kota menjual jagung muda dan mengojek. Hari -harinya selalu di jalani dengan hati yang senang dan gembira ,ndengan ditemani dengan radio kecil yang sering di bawanya ke kebun sebagai satu-satunya sumber informasi yang dimilikinya. Radio itu di beli dengan uangnya sendiri. Lulus dari SM , lag-lagi Deden merupakan lulusan terbaik. Setelah lulus di dari SMP dia pun ingin sekali lanjut sekolah SMA di kota. Tapi sanyangnya sang ayah tidak mau menyekolahkan anak nya SMA di Kota karena di kampung sudah ada sekolah baru di buka dan berstatus kelas jauh. Alasan si ayah menyekolahkan Deden di kampung karena sang ayah khawatir dengan kehidupan di Kota jangan sampai Deden terpengaruh dengan hal-hal yang tidak di inginkannya. Dasar si Deden anak penurut tidak dapat keputusan sang ayah dan keputusan semua itu ada di tangan ayahnya, karena menurut dia ayahlah yang menanggung semua biaya hidupnya. Pada saat SMA inilah Deden mulai malas-malasan sekolah karena guru-guru tidak ada perhatin dengan suasana di sekolah, mereka sibuk dengan kepentingannya masing-masing mereka jarang masuk mengajar kadang tiga kali seminggu, maklum saja namanya juga kelas jauh. Sepulang dari sekolah Deden mengadu dan mengeluh kepada ayahnya kalu satau begini tenaga gurunya malas-malasan lebih baik aku sekolah di Kota. Apa kata ayah ? sekolah disini sama saja dengan sekolah di Kota , tergantung kesungguhannya kita masing-masing. Hanya itu kata –kata yang keluar dari mulut sang ayah. Dasar anak pemalu hanya itu saja keluhan Deden terhadap ayahnya .
Namun dia tetap serius belajar demi menggapai semua cita-citanya . Alhasil Deden lulus dengan nilai pas-pasan. Dia sangat pusing saat itu, tidak mungkin ayahnya menyekolahkannya pada satu-satunya Universitas Negeri yang ada di propinsinya yang selama ini dia impi-impikan, karena dia tahu betul bagaimana kondisi keungan orang tuanya apalagi nilainya pas-pasan. Dengan agak ragu-ragu, Deden menyampaikkan hasil pengumuman ujian SMA pada sang ayah. Baru hari itu sang tidak memberikan respon sedikitpun. Ayah yang selama ini terkenal sangat keras didikannya hanya tertunduk kemudian manatap langit-langit rumah tertangkap oleh Deden di raut wajah sang ayah ada perasaa sedih saat itu.
Selesai makan malam, Deden dipanggil ayahnya ke ruang tamu. Sang ayah terdiam sejenak dan memulai pembicaraan;
‘’Den, di rumah ini kita tidak uang sepeserpun untuk membiayai kuliahmu, ...... tapi bapak dan ibu akan berusaha mencari pinjaman di Bank denganmenggadaikan sertifikat tanah kita, agar kamu bisa kuliah di Kendari dan bapak ingin kau seperti orang-orang yang bisa membanggakan kedua orang tuanya’’.
Deden tidak bisa ber komentar apa-apa, hanya jutaan bintang-bintang gembira yang ada di hati, tanpa terasa air matanya menetes pertanda bahagia. Hanya satu yang terpikirkan olehnya apa arti dari kekerasan sang ayah terhadapnya selama ini yang kini terganti dengan sesuatu yang menggembirakan....???
.......
Aku tersadarkan saat itu, ternyata aku sudah ketiduran di meja belajar.Waktu sudah menunjukkan jam 1 malam, aku lalu sholat malam saat itu, beribu do’a keluar dari hatiku untuk kedua orang tuaku yang membiayai kuliahku. Kata ma’af terukir dihatiku untuk sang ayah yang selama ini telah berburuk sangka padanya, semoga Tuhan mendengar dan mengabulkan semua do’aku. Hanya satu bisa kulakukan agar kuliah ini tidak putus di tengah jalan, saya selalu ingat pesan sang ayah bahwa kendala kuliah yang tidak bisa di tawar adalah....
Kalau dia seorang laki-laki maka kendalanya adalah .... perempuan.
Kalau dia seorang perempuan maka kendalanya adalah ... laki-laki.
Langganan:
Postingan (Atom)