AKU MASIH MENCINTAINYA

AKU MASIH MENCINTAINYA
SELAMAT DATANG di SAHIRUDIN KAMBOWA

Jumat, 01 Juni 2012

RETORIKA DAN DIALOG DALAM DRAMA “PARA JAHANAM”

RETORIKA DAN DIALOG DALAM DRAMA ‘PARA JAHANAM!’
Drama yang naskahnya ditulis oleh Zulfikri Sasma ini, merupakan adaptasi dari cerpen “LAMPOR” karya Joni Ariadinata, menceritakan tentang kehidupan kumuh yang bermukim dekat kali comberan. Ada satu hal yang membuat saya tertarik pada drama ini adalah kisah kaum comberan yang tidak adanya persatuan dalam suatu keluarga untuk memperjuangkan hidup agar dapat lebih baik dari sebelumnya dalam rangka menyongsong masa depan. Hal ini sangat bertentangan dengan kepribadianku bahwa kita akan selangkah lebih maju seandainya ada persatuan dalam keluarga apalagi kehidupan yang hanya seadanya saja, tentunya faktor kekompakan sangat dibutuhkan.
Drama berjudul “PARA JAHANAM” ini diperankan oleh empat pelaku, yaitu sebagai berikut:
1. JOHARI (suami)
2. TUMIYAH (istri)
3. ROS (anak perempuan)
4. UJANG (anak laki-laki)
Menurut hemat saya, masalah kesejahteraan yang ingin diperoleh setiap tokoh yang membuat drama ini sangat menarik, namun tergambar sangat jelas hanya pada tokoh utama berbeda dengan tokoh-tokoh pembantu yang hanya digambarkan samar-samar saja. Tokoh utama dalam drama ini adalah Johari karena dia selalu berdialog dalam kelima bagian drama ini. Hal ini dapat kita lihat pada bagian ke satu dan ke lima, tokoh Johari ini masih berdialog walaupun tak ada tokoh yang lain menanggapinya. Di bawah ini secara berturut-turut kutipan beberapa dialog tokoh Johari pada bagian ke satu dan bagian ke lima,
JOHARI:
Merah delima?
(Johari kembali berpikir keras. Kemudian ia teringat sesuatu, lalu mencarinya diantara tumpukan kertas tersebut, tapi tidak ketemu)
Tum! Tumiyah! Tumiyah…!
(Tak ada sahutan, Johari lalu mengambil sisa tembakau tadi malam dan melinting, membakar, alu menghirupnya dalam-dalam)
Tumiyah! Tum! Hei! Apa kau lihat lembaran syair yang tadi malam kutarok di meja?
Tum! Kau dengar aku Tum?
(Tetap tak ada sahutan, Johari kemudian melanjutkan pekerjaannya)
JOHARI:
Tum, Tumiyah, aku gagal Tum, hik, aku gagal mendapatkan kupon itu, padahal nomornya jitu, hik. Jika saja tidak, mungkin malam ini kita sudah bercinta di Griya Arta, eh, hik, bercinta? O ya, malam ini kita bercinta lagi ya Tum, hik, itulah obat bagi segalanya, hik. Tenanglah Tum, besok akan kupikirkan lagi kabar tentang merah delima, hik. Tum, hik, Tum..
Dilihat pada pengucapan yang berulang-ulang dan ditandai dengan adanya tanda seru merupakan suatu penegasan yang bisa mengembangkan ekspresi lakon dalam pentas dan tentunya ini sangat efektif sedangkan pada dialog kedua di atas konsep naskah yang terlalu panjang ini menyebabkan konflik yang ditimbulkan tidak kuat karena karena pada dasarnya dialog berpengaruh pada konflik yang dibawakan lakon. Dari kedua dialog tokoh Johari di atas dapat ditemukan juga bahwa gaya bicaranya sangat sesuai dengan watak keras ataupun sikap yang diperankannya, serta penghayatan yang dalam, hal ini juga dibuktikan dengan naratif yang ditulis pengarang berikut ini:
Pak Johari terlihat sibuk dengan tumpukan-tumpukan kertas di atas mejanya. Ada banyak angka-angka yang tertulis di kertas itu. Ia terlihat berpikir keras, tak ubahnya seperti seorang professor yang akan menyelesaikan penelitiannya. Kemudia ia batuk-batuk, lalu meludahkan dahak kental ke lantai dengan santai.
Tokoh istri yang bernama Tumiyah merupakan tokoh pembantu yang memberikan konstribusi sangat banyak setelah tokoh utama. Tokoh Tumiyah ini juga yang membuat drama ini lebih hidup dan menarik perhatian dengan wataknya yang lebih keras dari tokoh utama. Dialognya pun menggambarkan sikapnya yang begitu keras itu, walaupun dia hanya berdialog pada dua bagian drama ini dari lima bagian keseluruhannya, namun ini tidak mengurangi penjiwaan terhadap tokoh yang diperankan. Dan dalam penyampaiannya begitu menyamai watak keras yang diperankannya dengan retorika yang begitu sesuai dan sangat baik, tokoh Tumiyah juga berdialog menggunakan bahasa lisan/tutur yang pada pengaplikasiannya harus berteriak seperti pada kehidupan sehari-hari serta memberikan pengaruh karena disertai dengan ungkapan-ungkapan modern yang kasar, sebagaimana tergambar dalam dialog di bawah ini secara berturu-turut yang diambil dari beberapa dialog pada bagian dua dan bagian ke tiga pada naskah drama, sebagai berikut:
TUMIYAH:
Betul-betul kurang ajar itu anak! Pagi-pagi sudah mencuri! Dasar anak jadah! Kau tahu Pak Tua? Uangku 3000 perak yang kusimpan di lemari sudah dicuri oleh si Ujang, padahal uang itu akan kupakai untuk membeli minyak tanah! Dasar anak sinting! Anak setan!
TUMIYAH:
Betul-betul kurang ajar itu anak! Pagi-pagi sudah mencuri! Dasar anak jadah! Kau tahu Pak Tua? Uangku 3000 perak yang kusimpan di lemari sudah dicuri oleh si Ujang, padahal uang itu akan kupakai untuk membeli minyak tanah! Dasar anak sinting! Anak setan!
Dari dialog di atas kita sudah dapat menyimpulkan bahwa retorika tokoh Tumiyah sangat didukung oleh watak ibu-ibu yang keras dan selalu marah-marah, hal ini juga telah digambarkan penulis melalui prolog pada bagian dua drama ini:
Tiba-tiba Tumiyah datang membawa ember plastik sambil membanting daun pintu. Tak ayal lagi, sumpah serapah keluar dari mulutnya sendiri. Johari tetap konsentrasi dengan pekerjaannya. Sepertinya sikap Tumiyah yang datang begitu tiba-tiba adalah hal biasa yang dinikmatinya tiap hari.
Tokoh berikutnya adalah tokoh Ros. Tokoh Ros ini tampil hanya pada bagian ke empat drama, walaupun hanya tampil pada salah satu bagian saja namun dapat ditangkap bahwa wataknya pelit sebagaimana digambarkan dalam dialog. Dialog-dialog yang diperankannya pun tidak terlalu panjang dan disampaikan dengan bahasa yang cengeng sesuai dengan perangai anak-anak seperti pada kutipan berikut ini:
ROS:
Nggak! Nggak mau. Uangku hanya tingga 2000 perak buat beli viva, bedakku habis
(Ros tiba-tiba menjauh, menjaga nasinya agar tidak terjangkau oleh ayahnya)
Dalam prolog, penulis tidak menggambarkan watak tokoh Ros ini, namun dalam dialog ini tidak banyak keterangan-keterangan  yang diungkapkan sang tokoh melainkan langsung pada inti permasalahan sehingga pemakaian kalimat sangat efektif meskipun tidak serapi bahasa tulisan.
Sekarang, kita tengok tokoh Ujang. Tokoh Ujang ini tidak berbeda jauh dengan tokoh Ros, dia juga hanya muncul pada salah satu bagian drama ini yaitu pada bagian dua. Gaya bicara tokoh Ujang ini tidak dapat kita pastikan karena dia tidak berdialog sedikit pun pada keseluruhan drama ini. Wataknya hanya dapat kita lihat pada prolog yang ditulis ditambah dengan dialog-dialog tokoh lain. Dari itulah dapat mengenal wataknya yang nakal karena telah mengambil uang orang tuanya, sebagaimana yang digambarkan berikut ini:
 TUMIYAH:
Betul-betul kurang ajar itu anak! Pagi-pagi sudah mencuri! Dasar anak jadah! Kau tahu Pak Tua? Uangku 3000 perak yang kusimpan di lemari sudah dicuri oleh si Ujang, padahal uang itu akan kupakai untuk membeli minyak tanah! Dasar anak sinting! Anak setan!
(Dengan cuek Ujang beranjak menuju dapur, Johari masih melototkan matanya pada Ujang. Setelah Ujang menghilang, Johari kembali dengan pekerjaannya. Tapi, itupun hanya sebentar, karena tak lama setelah itu, Ujang berlari keluar dari dapur diiringi terikan istrinya yang memekakkan telinga.)
Sebagaimana dikatakan pada permulaan penulisan ini, bahwa drama ini tejadi di sebuah gubuk reot di tepi kali comberan. Dengan artistik ruangan 3x4 meter. Kita dapat memahaminya bahwa drama ini  meceritakan kehidupan kumuh, namun sangat disayangkan mereka tidak berjuang hidup seperti orang-orang yang hidup sama dengan mereka malahan mereka mengisi dengan kegiatan yang negatif seperti digambarkan dalam dialog tokoh Johari berikut ini:
 JOHARI:
Merah delima?
(Johari kembali berpikir keras. Kemudian ia teringat sesuatu, lalu mencarinya diantara tumpukan kertas tersebut, tapi tidak ketemu)
...........
Drama ini juga menceritakan sesuatu yang diperbuat para kaum comberan yang hidup hanya untuk makan dan senang-senang saja dari pagi sampai malam yang hanya mengharapkan keuntungan pada togel yang ternyata dia (tokoh Johari) tidak mendapat kuponnya dan ini juga menjadi keunggulan drama ini karena menceritakan sesuatu yang ada kaitannya dengan kehidupa sehari-hari yang banyak dipenuhi berbagai macam konflik dari awal pengenalan pertama hingga drama ini berakhir juga dengan konflik yang tidak diselesaikan dalam drama sehingga memberikan inspirasi bagi penikmat drama untuk menyelesaikannya sesuai dengan tingkat kemampuan sendiri-sendiri. Berikut ini adalah berbagai konflik yang dikutip dalam drama baik dialog maupun prolog yang digambarkan penulis:
..............
Sumpah serapah, caci maki, suara bantingan piring yang sering berakhir dengan saling cakar, ternyata telah menjadi upacara bangun pagi yang mengasyikkan. Hingga, tak ada satupun yang menarik untuk didengar, apalagi ditonton.
Tiba-tiba Tumiyah datang membawa ember plastik sambil membanting daun pintu. Tak ayal lagi, sumpah serapah keluar dari mulutnya sendiri. ................
TUMIYAH:
Hari ini tak ada kopi Pak Tua! Sebaiknya kau simpan saja impianmu itu!
Pak Johari jadi ingat bahwa perutnya belum di isi sejak pagi tadi, sedang Tumiyah istrinya ngelayap entah kemana. ...............
JOHARI:
Tum, Tumiyah, aku gagal Tum, hik, aku gagal mendapatkan kupon itu, padahal nomornya jitu, hik......................
.................
Barangkali gara-gara terlalu mabuk sehingga Johari lupa bahwa ia telah masuk ke kamar Ros anak gadisnya. Dan…)
Dari berbagai konflik yang dimunculkan dalam dialog di atas tentu sangat diperlukan cara bicara yang cukup agar konflik yang dimunculkan tersebut dapat terbesit dalam hati penikmat drama dan retorika yang diberikan sang penulis sangat berpengaruh dan cocok dengan kehidupan kaum comberan. Hal ini ditunjang juga dengan waktu dari pagi sampai malam dan latar belakang kehidupan kaum comberan yang sangat mendukung sebagaimana yang digambarkan melalui naratif penulis berikut ini:
Sebuah gubuk reot persis di tepi kali comberan. Dengan artistik ruangan 3x4 meter yang amat sederana, ...............
...............
Terasa sekali bahwa denyut kehidupan di rumah ini baru dimulai pada pukul 7 pagi.
Hingga pukul 12.00 siang, Kontan belum jua muncul. .................
Malam telah larut, lampu minyak telah lama dinyalakan. ...................
Itulah salah satu keunggulan drama ini, namun yang yang menjadi kelemahan menurut saya adalah konflik yang dibiarkan begitu saja oleh penulis tanpa ada penyelesaian dari konflik tersebut. Akan tetapi, yang harus kita pahami dalam drama ini bahwa hidup ini bukan hanya untuk makan dan senang-senang, juga kita tidak boleh berharap pada hal-hal yang belum tentu kita dapatkan apalagi berkenaan dengan masalah yang tidak baik seperti togel yang digambarkan dalam drama ini, serta minuman keras alias mabuk-mabukkan bukan merupakan solusi penyelesain masalah bahkan akan menambah masalah.





TUGAS:
KAJIAN DRAMA

RETORIKA DAN DIALOG DALAM DRAMA “PARA JAHANAM”
Naskah: Zulfikri Sasma



Oleh:
SAHIRUDIN
No. STB. A2D1 09109

Program studi
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar